Supervisi pendidikan
A.
Arti
dan makna Supervisi pendidikan
1.
Konsep
Supervisi
Menurut
konsep kuno supervisi dilaksanakan dalam bentuk “inspeksi” atau mencari
kesalahan. Sedangkan dalam pandangan modern supervisi adalah usaha untuk
memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu supervisi sebagai bantuan bagi guru
dalam mengajar untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar.namun
kenyataannya dimasyarakat, masih banyak orang beranggapan bahwa supervisi
pendidikan identik dengan pengawasan
yang berbau inspeksi.
Akibatnya
timbulah tingkah laku seperti rasa kaku, ketakutan pada atasan. Tidak berani
berinisiatif, bersikap menunggu instruksi, dan sikap birokrasi lainnya bagi
para guru. Sesungguhnya sikap supervisi pada awalnya adalah adanya kebutuhan
sesuatu dalam landasan pengajaran dengan cara membimbing guru, memilih metode
mengajar, dan mempersiapkan guru untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan
kreatifitas yang tinggi dan otonom sebagai guru, sehingga pertumbuhan jabatan
guru terus berlangsung. secara umum supervisi berarti upaya bantuan kepada guru
agar guru dapat membantu para siswa belajar untuk menjadi lebih baik.
Menurut
arti katanya, supervisi dapat diterjemahkan dengan “ melihat dari atas” atau “
melihat dari kelebihan”, jadi searti dengan pengawas, tetapi dengan pengertian
yang agak berbeda dari “mengawas” sebagai “controlling”. Supervisi meskipun
mengandung arti dan sering diterjemahkan sebagai pengawas atau mengawas, tetapi
pada prinsifnya supervisi mempunyai arti khusus yaitu “ membantu dan turut serta
dalam usaha-usaha perbaikan dan peningkatan mutu”.
Untuk
ini ia harus mengetahui jalannya usaha, mengetahui kelemahan-kelemahan dan
kelebihan-kelebihannya yang bekerja dan cara-cara bekerjanya (Rifai,1972:106).
Untuk mengetahui semua hal itu supervisor harus melakukan penelitian terlebih
dahulu. Jika sudah diketahui keleemahan-kelemahannya, barulah dicarikan
cara-cara menperbaiki dan meningkatkan situasi belajar mengajar. Jadi,
supervisi adalah ilmu dan seni memuat langkah-langkah yang ditujukan kepada perubahan
situasi yang ada dalam situasi yang diharapkan.
Secara
umum supervisi berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam
melaksanakan tugas profesionalnya, agar guru mampu membantu para siswa dalam
belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dari
sudut manajerial supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinasi, dan
membimbing guru secara terus menerus baik individu maupun kolektif agar
memahami secara efektif pelaksanaan aktivitas mengajar dalam rangka pertumbuhan
murid secara kontiniu (Boardman,1953). Kemudian supervisi pendidikan
mengkoordinasi, menstimulir, dan mengarahkan perkembangan guru (Brigs, 1938).
Secara
umum mengapa supervisi pendidikan diperlukan dilatar belakangi oleh
berkembangnya Science dan teknologi, adanya tuntutan hak asasi manusia,
pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang tidak merata, suburnya birokrasi dan
sistem yang bertingkat, membantu dan membina guru-guru yang kurang bermutu,
pertumbuhan jabatan, peraturan dan tuntutan negara, kultural, filosofis,
psikologis, dan sosiologis.
Supervisi
mempunyai fungsi penilaian (evaluation) dengan jalan penelitian (research) dan
merupakan usaha perbaikan (improvement). Menurut Swearingen fungsi supervisi
pendidikan adalah mengkoordinir semua usaha sekolah, memperlengkapi kepemimpinan
sekolah, memperkuat pengalaman-pengalaman guru, menstimulasi usaha-usaha yang
kreatif, memberikan fasilitas dan penilaian secara terus menerus, menganalisa
situasi belajar mengajar, memberikan pengetahuan kepada setiap anggota,
mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan
mengajar.
Sedangkan
peranan supervisi pendidikan adalah korektif, preventif, konstruktif, dan
kreatif dengan sasaran memperbaiki situasi belajar mengajar dan meningkatkan
kualitas proses belajar mengajar. Dalam berbagai aktivitasnya supervisor turut
sebagai partisipan, sebagai pimpinan (leadership) dan menstimulir kerjasama
antar anggota. Tujuan supervisi bukan menyodorkan suatu teori tetapi
menganjurkan sesuai kebutuhan dan untuk mengungkapkan beberapa karakteristik
esensial teori. Supervisi menurut Sergiovanni dan Satarrat (1983) belum
memiliki teori tetapi memiliki karakteristik. Suatu teori tentang praktek
memperhatikan empat pernyataan kunci yaitu realitas dalam suatu konteks
tertentu, apakah yang harus menjadi realitas, apakah peristiwa yang menciptakan
realitas ini berarti bagi individu dan kelompok, dengan ketiga dimensi ini apa
yang harus dilakukan oleh supervisor.
Sejalan
dengan pendapat tersebut Rifai (1987:37) mereduksi rumusan supervisi dari
sejumlah para ahli antara lain dikemukakan sebagai berikut :
- Supervisi
merupakan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar menngajar yang lebih
baik
- Supervisi
merupakan kegiatan untuk membantu dan melayani guru agar mereka dapat
menjalankan tugasnya mengajarnya lebih baik.
- Supervisi
adalah proses peningkatan pengajaran dengan jalan bekerja sama dengan
orang-orang yang bekerja sama dengan murid
- Supervisi
berusaha meningkatkan hasil belajar murid melalui gurunya
- Supervisi
merupakan bagian atau aspek dari administrasi khususnya yang mengenai
usaha peningkatan guru sampai kepada penampilan tertentu, dan
- Supervisi
adalah fase atau tahapan dalam administrasi sekolah, terutama mengenai
harapan dan tujuan tertentu dalam pengajaran.
Dari
rumusan supervisi tersebut dapat diartikan bahwa supervisor berada pada posisi
yang unik dalam pembelajaran sebab tugasnya amat strategis untuk mempengaruhi
keefektifan interaksi dan pelayanan belajar oleh guru. Oleh karena itu praktek
supervisi disekolah didasarkan pada salah satu atau kombinasi dari manajemen
ilmiah tradisional, hubungan manusia dilihat dari aspek psikologi dan sosiologi
serta komunikasi dan manajemen ilmiah baru. Manajemen ilmiah tradisional
menganut filsafat otokratik klasik dalam supervisi dan memandang guru sebagai pelengkap
manajemen yang diharapkan melaksanakan tugas sesuai dengan kehendak manajemen
artinya menggunakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik dan terukur.
Untuk memperoleh pengajaran yang
baik, perlu ada sistem supervisi yang efektif, keefektifan tersebut dapat
ditegaskan sebagai berikut:
- Supervisi
merupakan usaha untuk membantu dan melayani guru untuk meningkatkan
kemampuan keguruannya
- Supervisi
tidak langsung diarahkan kepada murid, tetapi kepada guru yang membina
murid itu,dan
- Supervisi
tidak bersifat direktif (mengarahkan) tetapi lebih banyak bersifat
konsultatif (memberikan dorongan,saran, dan bimbingan).
Praktek
supervisi adalah pengembangan teori yang berguna untuk memberi perhatian pada
aspek-aspek kepemimpinan instrumental dalam intruksional, bersifat lebih tetis
dan mengacu kepada alat pengembangan alat kebutuhan pembelajaran untuk mencapai
tujuan tertentu bagi supervisor. Kemudian aspek substansif mengacu pada
kepemimpinan itu sendiri,tujuan, nilai, dan makna kepemimpinan bagi seseorang
supervisor menggunakan teori-teori manajemen di implimentasikan dalam kegiatan
pembelajaran sebagai bantuan bagi para guru.
2.
Permasalahan
Supervisi pendidikan
Supervisi
yang bermakna kurang realistis disebabkan oleh:
- Supervisi
disamakan dengan controlling atau pekerjaan pengawasi, supervisor lebih
banyak mengawasi dari pada berbagi ide pengalaman
- Kepentingan
dan kebutuhan supervisi bukannya datang dari guri, melainkan supervisi itu
sendiri menjalankan tugasnya
- Akibat
ketidak mengerti tentang apa yang di nilai dan diamati oleh supervisor
terhadap guru, akibatnya data pengamatan adalah jelas nampak tidak
sistematis, bersifat sangat subyektif dan tidak jelas
- Pada
pihak lain kebanyakan guru tidak suka disupervisi walaupun hal itu
merupakan bagian dari proses pendidikan dan pekerjaan mereka
Bolla
(1984) mengemukakan bahwa supervisi merupakan keharusan bagi guru dengan alasan
sulit untuk memisahkan, merefleksikan dan menyadari tingkah lakunya bila sedang
berinteraksi dengan siswa dikelas. Beberapa problema yang dihadapi guru dilihat
dari perbedaan antara lain: perbedaan latar belakang pendidikan, orientasi
profesional, tujuan dan keterampilan, kesanggupan jasmani, kualifikasi
kemampuan memimpin, kondisi psikologis, dan pengalaman mengajar. Perbedaan ini
dapat terjadi karena beragamnya jenis dan jenjang pendidikan.
Peranan
administratif yang tercermin dari prilaku yang diobserfasi dalam melaksanakan
supervisi diklasifikasikan kedalam tiga kategori utama yakni:
- Antarpesonal
pemimpin dan penghubung
- Informasi
yang meliputi pemonitor, penyebar luaskan, dan pembicara
- Keputusan
yang meliputi penguasa, penangkal gangguan, pembagi sumber daya, dan
perunding
3.
Tujuan
Supervisi Pendidikan
Adapun
tujuan supervisi pendididkan menurut Peter (1894) adalah:
- Membantu
guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar
- Membantu
guru dalam menterjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses belajar
mengajar
- Dan,
membantu guru dalam mengembangkan staf sekolah
Supervisi
pendidikan memiliki dua karakteristik yaitu:
- Bersifat
terapan
- Melibatkan
aktivitas manusia dengan menempatkan keperluan yang unik padaa inquiri dan
pengembangan atau preskripsi bagi praktek supervisi.
4.
Prinsip
Supervisi Pendidikan
Prinsip
supervisi pendidikan antara lain adalah:ilmiah yang berarti sistematis
dilaksanakan secara tersusun, kontiniu, teratur, objektif, demokratis,
kooperatif, menggunakan alat, konstruktif dan kreatif.
5.
Teknik-Teknik
Supervisi Pendidikan
Teknik
supervisi terdiri dari :
- Teknik
individual dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar meliputi
kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi
kelas, dan menilai diri sendiri,dan
- Teknik
supervisi kelompok dalam rangka pengembangan staf meliputi pertemuan
orientasi bagi guru baru, panitia penyelenggara, rapat guru, studi guru,
diskusi sebagai proses kelompok, tukar-menukar pengalaman,
lokakarya,diskusi panel, seminar, simposium, demonstration teaching,
perpustakaan jabatan, buletin supervisi, membaca langsung, mengikuti
kursus, organisasi jabatan, curiculum laboratory, perjalanan sekolah.

