BUDI
UTOMO
Ø
Latar belakang dan perkembangan Budi Utomo
Peta bumi pendidikan banyak berubah.
Pada tahun 1900 Hoofdenschool diganti dengan nama OSVIA. Kurikulum disesuaikan
dengan sekolah-sekolah menengah lainnya. Sekolah “Dokter Djawa” juga mengalami
reorganisasi menjadi STOVIA. Sejak tahun 1904 seorang lulusan STOVIA bisa
mengejar titel dokter Eropa dalam waktu satu setengah tahun. Bahkan Drop-outs
dari STOVIA diberi tempat yang memuaskan di pemerintahan. Dengan demikian
golongan priyayi yang menduduki klas priyayi berdasarkan tradisi terdesak oleh
golongan priyayi yang menjadi priyayi berkat pendidikan. (Poespoprodjo.1984:22)
Boedi Oetomo
yang berdiri pada tanggal 20 mei 1908 adalah suatu kongkretisasi
kesadaran.seperti diketahui, anggota-anggota Boedi Oetomo adalah dari kalangan
budaya priyayi,di antara lapisan-lapisan
masyarakat yang ada lapisan priyayilah yang paling banyak mengalami goncangan
dan perubahan. Baik karena kedekatan mereka dengan orang barat, maupun karena
golongan priyayi dianggap sebagai “harapan”. (Poespoprodjo.1984:21)
Budi Utomo lahir dari
pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh
beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek,
Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan
selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta
bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para
pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya
memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40
wib)
Para
pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa
menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk
mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda,
dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib
bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa
saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40
wib)
Pada
awalnya, para pemuda itu berjuang untuk penduduk yang tinggal di Pulau Jawa dan
Madura, yang untuk mudahnya disebut
saja suku bangsa Jawa. Mereka mengakui bahwa mereka
belum mengetahui nasib, aspirasi, dan keinginan suku-suku bangsa lain di luar
Pulau Jawa, terutama Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Apa yang diketahui adalah
bahwa Belanda menguasai suatu wilayah yang disebut Hindia (Timur) Belanda (Nederlandsch
Oost-Indie), tetapi sejarah penjajahan dan nasib suku-suku bangsa yang ada
di wilayah itu bermacam-macam, begitu pula kebudayaannya. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40
wib)
Pada hari
Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang
belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan
bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo.
Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa
kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu,
mereka berpendapat bahwa "kaum tua"-lah yang harus memimpin Budi
Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan
organisasi itu. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40
wib)
Sepuluh
tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin
organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi"
atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar
(presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40
wib)
Dengan
semboyan hendak meningkatan martabat rakyat, Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo,
seorang dokter Jawa di Yogyakarta dan termaksuk golongan priyayi rendahan,
dalam tahun 1906 dan 1907 mulai mengadakan kampanye digolongan priyayi di pulau
Jawa. Walaupun tidak berjalan seperti yang di harapkan, hasilnya tetap ada,
seperti didaerah Jawa Tengah sendiri sejak saat itu terbuka kemungkinan adanya
kerja sama diantara pejabat pribumi. Peningkatan ini akan dilaksanakan dengan
membentuk “Dana Belajar”. Dalam perjalanan kampanye itu pada akhir tahun 1907,
dr.Wahidin bertemu dengan Soetomo, pelajar STOVIA, di Jakarta. Dalam kampanye
itu dr.Wahidin makin mendorong dan memperbesar cita-cita tersebut. Setelah Soetomo
membicarakan maksud kampanye dr.Wahidin dengan teman-temannya di
STOVIA.terdapat beberapa perubahan. Tujuan semula mendirikan suatu “Dana
Belajar” diperluas jangkauannya. Begitulah pada hari Rabu tanggal 20 mei 1908di
Jakarta pelajar-pelajar tersebut digedung STOVIA mendirikan organisasi yang
diberi nama Budi utomo, dan Sutomo ditunjuk sebagai ketua.
Dari
bulan mei sampai awal oktober 1908, Budi Utomo yang baru muncul itu merupakan
organisasi pelajar dengan para pelajar STOVIA sebagai intinya.tujuannya merumuskan
secara samar-samar yaitu:”Kemajuan Bagi Hindia”, dimana jangkauan geraknya
terbatas pada penduduk pulau Jawa dan pulau Madura dan baru kemudin meluas
untuk penduduk Hindia Belanda seluruhnya dengan tidak memperhatikan perbedaan
keturunan, jenis kelamin, dan agama. Sampai menjelang kongres pertama terdapat
8 cabang budi utomo yaitu di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogya I, Yogya II,
Magelang, Surabaya, dan Probolinggo.
Ketika
kongres Budi Utomo dibuka di Yogyakarta, pimpinan beralih kepada generasi yang
lebih tua, yang terutama terdiri dari priyayi-priyayi rendahan.tanpa pengalaman
sedikitpun dalam hidup keorganisasian, Budi Utomo merupakan wadah dari
unsur-unsur radikal dan bercorak politik seperti pada diri dr.Tjipto
Mangunkusumo dan unsur yang kurang memerhatikan keduniawian yang cenderung
bersifat filsafat, seperti pada diri dr. Radjiman Wedyodiningrat. Ketuanya
Tirtokusumo, sebagai seorang bupati lebih banyak memerhatikan reaksi dari
pemerintah kolonial daripada memerhatikan reaksi dari penduduk pribumi.
Penggurus
besar memutuskan untuk membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa dan
Madura dan tidak akan melibatkan diri dalam kegiatan politik. Bidang kegiatan
yang dipilih oleh karena itu ialah bidang pendidikan dan budaya.pengetahuan
bahasa Belanda mendapat prioritas pertama karena tanpa bahasa itu seseorang
tidak dapat mengharapkankan kedudukan yang layak dalam jenjang kepegawaian
kolonial. Dengan demikian Budi Utomo cenderung untuk memajukan pendidikan bagi
golongan priyayi daripada bagi penduduk pribumi pada umumnya. Slogan Budi Utomo
berubah dari :perjuangan untuk mempertahankan penghidupan” menjadi “ kemajuan
secara serasi”.hal itu menunjukan pengaruh golongan tua yang moderat dan
golongan priyayi yang lebih mengutamakan jabatannya. Dengan demikian, sikap
“Proto-nasionalistis” dari para pemimpin pelajar yang kentara pada awal
berdirinya Budi Utomo,kini terdesak kebelakang.
Perkembangan
selanjutnya merupakan periode yang paling lamban bagi Budi Utomo. Aktivitasnya
hanya sebatas penerbitan majalah bulanan Goeroe Desa dan beberapa petisi, yang
dibuatnya kepada pemerintah berhubung dengan usaha meninggikan mutu sekolah
menengah pertama.
Tirtokusumo
berhenti pada tahun 1912 dan ketua Budi Utomo yang baru, pangeran Noto Dirodjo
berusaha dengan penuh tenaga mengejar
ketertinggalan. Dengan ketua yang baru itu, perkembangan Budi Utomo
tidak pesat lagi. Hasil-hasil yang pertama dicapainya oleh ketua yang
berketurunan Paku Alam itu ialah perbaikan pengajaran di daerah
kesultanan/kesunanan. Budi Utomo mendirikan organisasi dana belajar Darmoworo.
Akan tetapi, hasilnya tidaklah begitu besar. Sukses-sukses yang kecil itu makin
tidak berarti dan berada dibawah bayangan munculnya organisasi nasional
lainnya, terutama:
1. Sarekat
islam, yang didirikan pada tahun 1911, berasaskan dasar hubungan spiritual
agama dan kepentingan perdagangan yang sama,berkembang menjadi gerakan rakyat
yang pertama dan sebenarnya di Indonesia.
2. Indische
partij, yang berdiri pada masa yang bersamaan mempropagandakan “ Nasionalisme
Hindia “ dan bergerak dalam bidang politik.
Kedua
partai tersebut menarik unsur-unsur yang tidak puas dari luar Budi Utomo.
Sungguhpun prinsip-prinsip utama tentang netralisasi agama dan aktivitas
non-politik Budi Utomo membedakan dirinya dengan organisasi-organisasi lain, ia
harus menyadari kenyataan pahit bahwa selama prinsip-prinsip itu dipertahankan
dengan sifat yang pasif tidaklah dapat diharapkan pengaruhnya akan makin luas.
Mulai
pecahnya perang dunia 1 pada tahun 1914, kelihatan ada usaha untuk mengembalikan
kekuatan yang ada pada Budi Utomo. Dengan dikirimkannya sebuah misi kenegeri
Belanda oleh Kote “Indie Weerbaar” untuk pertahanan dalam tahun 1916-1917
merupakan petanda masa yang amat berhasil bagi Budi Utomo . Dwidjosewoyo
sebagai wakil Budi Utomo dalam misi tersebut berhasil mengadakan pendekatan
dengan pemimpin-pemimpin yang terkemuka. Keterangan menteri urusan daerah
jajahan tentang pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat). Undang-undang wajib
militer gagal,sebaliknya undang-undang pembentukan Volksraad disahkan pada bulan
desember tahun 1916.Budi Utomo segera membentuk sebuah Komite Nasional untuk
menghadapi pemilihan anggota volksraad, tetapi komite itu tidak dapat berjaan
sebagaimana mestinya dan akhirnya bubar.
Budi
Utomo (BU) pada akhir tahun-tahun 1920-an berubah dari organisasi etnis Jawa
menjadi organisasi Indonesia. Kongres BU di Yogyakarta tanggal 31 desember
1927- 1 januari 1928 memutuskan bahwa organisasi tersebut masuk menjadi anggota
federasi permufakatan perhimpunan-perhimpunan politik kebangsaan Indonesia
(PPPKI). Badan federasi tersebut dibentuk pada akhir tahun 1927 atas inisiatif
Ir. Soekarno. Dalam kongres bulan april 1928 di Solo, pasal 2 anggaran dasar
(AD)-nya ada tambahan kata-kata yang berbunyi:” dan menuju pelaksanaan
cita-cita persatuan Indonesia “. Walaupun demikian baru dalam kongres di Solo
tahun1930 organisasi tersebut menerima sebagai anggota orang jawa , madura,
Bali, Lombok, dan golongan-golongan bangsa lain yang mempunyai persamaan
kebudayaan.
Kongres
BU pada tahun 1931 di Jakarta membicarakan tentang kemerdekaan. Dalam AD nya
ada perubahan lagi, yaitu BU menjadi organisasi nasional Indonesia, terbuka
bagi semua golongan bangsa indonesia. Ejaan namanya di ubah dari Budi Utomo
menjadi Budi Utama.
Pada
tanggal 24-26 desember 1935 BU an PBI menyelenggarakan kongres di Solo. Dalam
organisasi tersebut berfusi dan lahir organisasi baru bernama Partai Indonesia
Raya (Parindra).Sutomo yang terpilih sebagai ketua pengurus.
DAFTAR
PUSTAKA
Poespoprodjo.1984.
Jejak-Jejak Sejarah 1908-1926 Terbentuknya
Suatu Pola. Bandung: Remadja Karya CV.
(http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40
wib)
Poesponegoro,Marwati Djoened &
Nugroho Notosusanto.2008. Sejarah
Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.


0 komentar:
Posting Komentar