This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Pages

nasionalisme Cina


NAMA                    : REZA AGUSTINA
NIM                        : 06121004019
PRODI                    : PENDIDIKAN SEJARAH’12
MATA KULIAH        : SEJARAH ASIA TIMUR

   A.  Latar belakang Timbulnya Nasionalisme Cina

1.      Penyelewengan dan kelemahan dinasti Monchu
Dinasti Monchu memerintah di Cina pada 1644-1911 M. Pemerintahan ini adalah pemerintahan asing, sebab bangsa Manchu bukan penduduk asli Cina. Maka tidak mengherankan jika rakyat Cina merasakan penderitaan. Melihat keburukan-keburukan atau penyelewengan dinasti Manchu mereka bergerak untuk melawan dan memebebaskan diri dari cengkraman dinasti asing tersebut. Adapun penyebabnya adalah:
a.       Sesudah kaisar besar dari dinasti Manchu meninggal dunia, lenyaplah pula masa kemakmuran Cina, selanjutnya terjadilah kekacauan-kekacauan yan berpangkal adanya perebutan kekuasaan diantara putra-putra kaisar. Masa kekacauan ini memberikan kesempatan pada bangsa-bangsa Barat untuk mengekploitasi kekayaan Cina. Banyak bangsa Barat yang dengan paksa minta agar diperbolehkan mendirikan pabrik-pabrik serta penguasaan terhadap sumber-sumber bahan mentah.
b.      Dinasti Manchu memerintah dengan menggunakan sistem Feodal, memperbudak rakyatnya. Seolah-olah menjual negara cina kepada negara-negara Barat. Inilah yang sebenarnya menyebabkan rakyat Cina tidak lagi menaruh kepercayaan terhadap pemerintah Manchu. Ketidak percayaan ini akan diwujudkan dalam berbagai pemberontakan, misalnya pemberontakan T’ai Ping.
c.       Kekayaan Cina dalam perang melawan Jepang 1895 M kekalahan Cina dalam peperangan tersebut mengakibatkan prestise bangsa dan negara Cina menurun, dulu sebagai “guru”,kini dikalahkan oleh bekas” murid”nya. Kekalahan ini membuktikan kelemahan pemerintah Manchu tidak berdaya mencegahnya.
d.      Korupsi dan pemborosan yang merajalela. Semua berpangkal pada tindakan ibu Tzu Hsi (kaisar Janda Tua) yang memiliki tentara nasional secara tidak sah, untuk kepentingan pribadi. Tzu Hsi mengizinkan para pejabat untuk menjual jabatannya untuk kepentingan diri sendiri.

2.      Kesadaran Bangsa Cina

Perang Cina-Jepang membuka mata “golongan Progresif” di Cina, sehingga mereka bukan saja mengetahui bahwa Cina telah begitu lemah sehingga kalah dalam perang melawan bekas “muridnya” (Jepang), melainkan mereka juga mengetahui bahwa Jepang yang kecil itu telah menarik keuntungan dari ilmu pengetahuan Barat sehingga dapat memodernisir diri sehingga akhirnya dapat memenangkan perang melawan Cina. Siapa yang dimaksud golongan progresif? Golongan ini tidak lain terdiri dari kaum intelektual (pelajar, mahasiswa, maupun cendikiawan) dari golongan ini munculah gerakan yang bercita-cita menggulingkan pemerintah manchu. keburukan-keburukan para pembesar dinasti Manchu yang diketahui oleh “golongan Progresif “ tersebut memicu berkobarnya semangat Nasionalisme Cina. Kekalahan dinasti Manchu dalam pergulatan militer atau perang dan diplomatik dengan negara-negara Barat semakin melenyapkan kepercayaan rakyat. Semuanya ini menyebabkan “golongan Progresif” yang revolusioner tersebut semakin agresif. Mereka makin merasakan bahwa saat-saat untuk bergerak telah diambang pintu.
Adanya kekacauan di Cina dapat dilihat dari banyaknya peperangan yang kemudian diakhiri dengan perjanjian yang bvanyak merugikan pihak Cina. Hal tersebut semakin menyadarkan rakyat Cina bahwa meluasnya pengaruh bangsa-bangsa asing( Barat ) akan sangat membahayakan.

   B.   Riwayat Singkat Dr.Sun Yat Sen dan Cita-citanya

1.      Riwayat singkat Dr. Sun Yat Sen

Sebagai anggota tokoh pahlawan nasional, nama Sun Yat Sen tercatat dalam sejarah. Ia adalah seorang negarawan Republik Cina dan sekaligus pemimpin revolusi Cina. Sun Yat Sen dilahirkan di suatu desa tani Hsiangshanhsien, provinsi Kwangtung pada 12 November 1866 M. Nama lain dari Sun Yat Sen adalah Sun Wen. Pada masa kecilnya ia dikenal sebagai anak yang cerdas, dan berani menentang kebiasaan-kebiasaan yang kolot, misalnya kebiasaan mengikat kaki wanita supaya tetap kecil. Pernah anda melihat sisi kebiasaan macam ini pada wanita Cina Keturunan/perantau ke Indonesia ? perhatikan kaki-kaki wanita yang masih “totok”.
Dalam usia 13 tahun, ia pergi ke Honolulu mengunjungi abangnya. Di Honolulu oleh abangnya Sun Yat Sen dimasukansekolah bioskop(sekolah kristen). Kemudian ia bersimpati,dan ingin memeluk agama kristen,akan tetapi ayahnya melarangnya dan bahkan ia dipanggil pulang ke tanah airnya pada 1882 M, untuk selanjutnya ia membantu ayahnya di sawah. Dikampungnya Sun Yat Sen menghasut anak-anak muda untuk menentang kepercayaan berhala, misalnya mereka merusak patung-patung dewa. Hal ini berakibat Sun Yat Sen diusir dari kampungnya. Pada 1884 M Sun Yat Sen masuk ke Queen’College di Hongkong sampai 1886 M. Pada 1887 M ia masuk kesekolah Tabib di Hongkong dan lulus 1892 M. Pekerjaan sebagai tabib tidak memuaskan hatinya, dan ia lebih tertarik pada bidang politik. Oleh karena itu pula ia memutuskan untuk berkecimpung di bidang politik dan hendak menggulingkan kekuasaan Manchu, yang telah membuat rakyat Cina menderita. Sejak kecil ia sudah dihadapkan keadaan negaranya uang kacau dan merasakan kesengsaraan dan menderitanya rakyat Cina.
            Dalam perkembangan selanjutnya, DR. Sun Yat Sen dikenal sebagai pemimpin bangsa. Bahkan sesudah revolusi politik berhasil menumbangkan kekuasaan dinasti Manchu, ia diangkat menjadi presiden Republik Cina. Pada 1925 Dr.Sun Yat Sen meninggal dunia setelah kekecewaan dan perjuangan berat. Selama 40 tahun ia mengabdikan diri untuk mencapai kemerdekaan dan persamaan bangsa Cina.

2.      Cita-cita dan ajaran Dr.Sun Yat Sen
Setelah disinggung didepan bahwa Dr. Sun Yat Sen bercita-cita untuk membebaskan bangsanya dari cengkraman Dinasti Manchu, yang telah memperbudak dan mensengsarakan bangsanya. Pada waktu pecah perang Cina-Jepang I (1894-1895 M) ia pergi ke Honolulu, Sun Yat Sen membentuk suatu perkumpulan yang disebut Hsing Chung Hui (perkumpulan memperbaiki Cina) (jansen, 1979:61).
Dalam 1905 M ia mengunjungi Eropa, tepatnya di Belgia. Di Brussel ia membentangkan ajarannya yang disebut San Min Chu i (tiga asas rakyat). (Nio Yu Lan,1952).ia menceritakan lenyapnya Dinasti Manchu dan selanjutnya Cina akan diatur dan diperintah oleh Cina sendiri. Pemerintah yang diinginkan adalah Republik yang Demokratis. Cina harus merupakan negara kesatuan. Menurut Dr.Sun Yat Sen demokrasi terdiri dari tiga dasar yaitu:
a.      Min Tse’ (Nasionalisme)
M’in Tsen dalam bahasa Inggris berarti nation, artinya terkandung didalamnya adalah bangsa dan negara. Ini dimaksudkan Sun Yat Sen menghendaki adanya suatu bangsa dan satu negara yakni bangsa/negar Cina sebagai satu kesatuan . azas ini diletakan paling atas karena langsung menyangkut bangsa-bangsa barat yang telah membagi bangsa Cina sebagai daerah pengaruh atau ekploitasi mereka. Disamping itu juga menyangkut perintah Manchu yang telah menginjak-injak kemerdekaan bangsa Cina. Mereka inilah yang harus dilenyapkan.
b.      Min Chu ( Demokrasi )
Ini berarti pemegang kedaulatan tertinggi dalam negara adalah rakyat. Pemerintah dijalankan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Sun Yat Sen menginginkan pemerintahan Cina yang baru adalah Demokratis. Sehubungan dengan itu, maka pemerintah monarki harus dilenyapkan karena pemerintah monarki akan mudah dipakai sebagai alat bagi para raja atau kaisar untuk melampiaskan kesenangannya. Perubahan pemerintahan ini dapat dicapai hanya dengan revolusi.
c.       Min Sheng ( Sosialisasi )
Min Sheng sebenarnya berarti penghidupan. Sun Yat Sen cenderung menerima azas sosialisme sebagai azas penghidupan, jadi, sosialisme berarti juga kesejahteraan rakyat. Artinya seluruh rakyat harus dapat mencari seluruh naskah serba cukup untuk penyelenggaraan hidupnya yang layak. Prinsipnya dengan Sun Min Chu I ini Sun Yat Sen ingin membawa bangsa Cina menjadi bangsa yang merdeka, dengan satu pemerintah pusat yang demokratis dan dalam kehidupan yang layak dan sejajar dengan bangsa lain di dunia.
Sejak 1905 M banyak sekali jumlah mahasiswa Cina yang belajar ke Jepang. Mereka tertarik pada ajaran Dr. Sun Yat Sen untuk itu mereka membuat perkumpulan Kuo Tung Meng Hui, di Tokyo (Jansen,1979). Tujuan perkumpulan ini adalah:
a.       Mengusir bangsa Tartar. Bangsa Manchu dianggap termaksuk bangsa Tartar
b.      Merebut kembali Cina dari tangan Dinasti Manchu. Negara Cina akan dipegang dan diperintah oleh bangsa Cina.
c.       Membangun suatu Republik
d.      Menyama ratakan pemilik tanah

   C.   Revolusi meletus di Cina
Pada tahun 1911 M revolusi meletus untuk pertama kalinya di Cina bagian Selatan(Canton).Canton merupakan pusat kegiatan dagang, pusat pertemuan antar berbagai bangsa. Penghubung dengan negara luar misalnya dilakukan melalui Canton. Canton adalah ibukota Provinsi Kwangtung di Cina Selatan. Melalui Canton, masuklah paham-paham, ide-ide dan pikiran Barat yang Liberal. Dari provinsi Kwangtung juga muncul tokoh-tokoh perjuangan Nasional, seperti Sun Yat Sen yang mampu menghimpun para mahasiswa Cina yang belajar diluar negeri, orang-orang Cina yang progresif mereka bersatu dan sama-sama akan menggulingkan pemerintah Dinasti Manchu dan mengusir dan melenyapkan segala macam pengaruh bangsa-bangsa Barat dengan hak-hak istimewa mereka. Karena letaknya yang strategis, maka Canton paling terbuka untuk perhubungan dengan negara lain. Selain itu rakyat yang tinggal di Cina Selatan tergolong rakyat yang cerdas dan kuat. Gerakan anti bangsa asing yakni bangsa Manchu dan Barat, semuanya berpusat di Selatan.
  D.   Jalannya Revolusi
Jalannya Revolusi Cina 1911 M secara kronologis dapat dikemukakan sebagai berikut:
1)      Pada waktu Cina masih berperang melawan Jepang (1894-1895 M) kesempatan ini dipergunakan oleh Sun Yat Sen untuk mengadakan gerakan yang merampas Canton untuk dijadikan pusat revolusi, akan tetapi usaha ini gagal.
2)      Pada waktu itu Cina sedang terjadi pemberontakan Boxers (1900 M), masa itu digunakan oleh Dr.Sun Yat Sen dan kaum revolusioner untuk memberontak. Kali ini Dr. Sun Yat Sen juga belum berhasil
3)      Pada 27 april 1911 M dibawah pimpinan Hwabg Hsing kaum revolusioner dan anggota-anggota Tung Meng Hui melakukan pemberontakan di Canton. pemberontakan ini mengalami kegagalan lagi. Meskipun demikian, semangat revolusi tidaklah berhenti sampai disini
4)      Pada 9 oktober 1911 M meledakkan bom disalah satu gudang rahasia milik perkumpulan Tung Meng Hui di provinsi Hupeh. Banyak prajurit tertangkap, dokumen-dokumen rahasia kaum revolusioner di rampas oleh raja muda di Hupeh yaitu Jui Chang
5)      Pertempuran yang hebat terjadi ketika merebut kota Wungchang pada 10 oktober 1911 M ( yang kemudian dikenal dengan nama Wunchang day, Doubel ten nineteen eleven). Wungchang adalah ibukota provinsi Hupeh. Sebelum terjadi pertempuran pasukan revolusionermemotong rambutnya yang panjang terlebih dulu,yang dahulu diwajibkan oleh pemerintah Manchu sebagai tanda rakyat taklukan. Pada waktu itu tidak ada seorangpun pemimpin dipihak pasukan revolusioner lalu mengangkat Li Yuan Hung ( seorang kolonel dalam tentara Manchu) untuk memihak kaum revolusioner dan sekaligus sebagai pemimpin . kemudian Li Yuan Hung mengumumkan bahwa pemerintah Manchu telah digulingkan dan pemerintah militer baru telah terbentuk
6)      Pada 12 oktober 1911 M provinsi-provinsi satu persatu direbut oleh revolusi, akibatnya dari 18 provinsi tinggal 2 provinsi saja yang dapat dipertahankan oleh tentara Manchu, yaitu provinsi Honan dan Chihli. Dalam suasana yang terpojok, pemerintah Manchu mengangkat kembali bekas opsirnya yaitu Yuan Shih K’ai sebagai raja muda.
7)      Selanjutnya pemerintah Manchu bersidang dan mengadakan suatu keputusan bahwa:
a.       Adanya kekacauan dan peperangan adalah karena kesalahan pemerintah Manchu
b.      Undang-undang dasar negara harus disusun untuk memperbaiki keadaan
c.       Kabinet baru harus disusun dan tidak perlu mengikutsertakan keluarga kaisar atau para bangsawan, karena ini tidak sesuai dengan keinginan rakyat.
d.      Akan mengadakan pengampunan (amnesti) kepada orang-orang bekas pemberontakan
Setelah revolusi di Wuchang,pemerintah Dinasti Manchu sebenarnya sudah sangat ketakutan. Karena itu pemerintah Dinasti Manchu mencoba membelokan cita-cita kaum revolusioner dengan tindakan perbaikan pemerintah. Untuk itu Yuan Shih K’ai di angkat sebagai perdana menteri oleh Dewan Nasional sebagai pengganti pangeran Ch’ing yang meletakan jabatannya.
8)      Pada 11 november 1911 M pasukan revolusioner menuntut agar kaisar Manchu terakhir yang masih kanak-kanak untuk turun dari tahta. Sebagai reaksi dari pihak Manchu ialah mengangkat Yuan Shih K’ai sebagai pemimpin sipil dan militer tertinggi di Cina utara
9)      Pada desember 1911 M pertempuran sudah dikatakan berakhir dengan kemenangan-kemenangan bagi pihak “kaum revolusioner”. Pada 29 desember 1911 M kaum revolusioner mengangkat Dr.Sun Yat Sen sebagai presidenpemerintah sementara Republik Cina.
10)  Pada 1 januari 1912 M Dr. Sun Yat Sen dilantik sebagai presiden Cina di Nanking. Tanggal 1 januari 1912 M selanjutnya dinyatakan sebagai tanggal berdirinya Republik Rakyat Cina. Sedangkan 10 oktober yakni meletusnya revolusi di Wuchan, menjadi hari kemerdekaan Cina.

                 Selanjutnya Dr.Sun Yat Sen menyatakan bahwa dasar negara adalah rakyat. Oleh karena itu semua suku bangsa yang ada dinegara Cina dipersatukan sebagai satu bangsa. Persatuan ini dilambangkan dalam bendera Republik Cina yang terdiri dari lima warna (merah,kuning,biru,putih,hitam). Pada 12 februari 1912 M ibu Suri Lung Yu mengeluarkan pengumuman yang juga ditandatangani oleh Yuan Shih K’ai yang isinya adalah : bahwa ibu Suri bersama kaisar terakhir yakni Hsuan Tung (masih kanak-kanak) menyerahkan kedaulatan kepada rakyat Cina; dinyatakan pula bahwa bentuk pemerintahan selanjutnya republik, sedangkan Yuan Shi K’ai diberi kekuasaan penuh untuk mengaturnya.
                 Jadi tanggal 12 februari 1912 M adalah merupakan tanggal penyerahan kedaulatan dari tangan pemerintah Manchu yang memerintah sejak 1644 M berakhir sudah. Perihal penyerahan kedaulatan dan beberapa permintaan dari bekas pemerintah Manchu disampaikan oleh Yuan Shih K’ai kepada Dr. Sun Yat Sen hal ini disambut gembira oleh Dr. Sun Yat Sen.
                 Untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya perpecahan, Dr. Sun Yat Sen mengundurkan diri dari jabatan presiden sementara Republik Cina dan menyerahkannya kepada Yuan Shih K’ai secara resmi pada 15 februari 1912 M. Yuan Shih K’ai selanjutnya diangkat sebagai presiden Republik Cina dan Li Yuan Hung sebagai Wakil Presiden.

0 komentar:

Posting Komentar