BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Benua Afrika merupakan benua terbesar
ke tiga di dunia setelah Asia, dan Amerika. Benua Afrika ini mempunyai penduduk
yang sebagian besar berwarna hitam. Oleh karena itu benua ini disebut dengan
benua Hitam. Oleh karena banyaknya sumber daya yang terdapat di daerah Afrika
menyebabkan benua ini menjadi incaran para negara-negara maju seperti Prancis,
Amerika, Inggris dan lainnya.
Dalam perkembangannya, benua ini bukan
menjadi benua yang maju melainkan menjadi benua ke tiga yang sebagian besar
penduduknya berada pada garis kemiskinan. Hal ini cukup mencengangkan mengingat
benua Afrika yang cukup kaya akan sumber daya alamnya, namun penduduknya tidak
sejahtera seperti yang kita bayangkan. Oleh karena itu sangat wajar jika banyak
terjadi masalah yang disebabkan karena faktor ekonomi, budaya, sosial dan bahkan
politik.
Salah satu negara yang terkena dampak
ini adalah Aljazair. Aljazair merupakan salah satu negara di benua Afrika yaitu
Afrika bagian Utara. Aljazair ini memiliki sejarah yang cukup panjang dalam hal
kemerdekaan dan berbagai konflik maupun penyelesaiannya juga. Banyak sekali
kasus yang terjadi di negara Aljazair ini seperti revolusi musim semi dan
krisis sandera yang kemudian akan di bahas dalam bab selanjutnya.
1.2
Rumusan Masalah
Bagaimana terjadinya berbagai macam
krisis yang melanda negara Aljazair?
1.3
Tujuan
Agar Mahasiswa bisa memahami berbagai
krisis yang terjadi di dunia bukan hanya di wilayah Arab saja melainkan wilayah
lainnya seperti Aljazair, selain itu agar bisa menambah pengetahuan lebih
banyak mengenai info-info kejadian ataupun krisis di seluruh dunia salah
satunya yaitu Aljazair.
1.4
Manfaat
- Untuk Mahasiswa, sebagai bahan pembelajaran dan bekal pengetahuan untuk lebih jeli lagi dalam menanggapi krisis yang terjadi di berbagai belahan dunia.
- Untuk Dosen, sebagai bahan materi untuk mata kuliah Sejarah Afrika
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Revolusi Musim Semi di
Aljazair
Pada bulan
Januari 2011, di Aljazair sudah terjadi demonstrasi dan terus berlangsung di
bulan Februari. Ribuan polisi dikerahkan memblokade jalan agar para demonstran
agar tidak memasuki ibu kota negara. Warga memprotes meningkatnya harga
komoditi dan juga tingginya angka pengangguran. Demo warga makin meningkat
setelah pemerintah menetapkan kenaikan harga susu, gula, dan tepung. Selain
itu, sudah lama rakyat Aljazair mengeluhkan ketidakadilan distribusi kekayaan
negara. Ribuan pemuda Aljazair turun ke jalan-jalan dan bentrok dengan aparat
polisi. Bahkan sebuah pos polisi dibakar massa. (http://ahmadhaes.wordpress.com/2011/02/14/revolusi-mesir-merembet-ke-aljazair/
)
2.1.1 Revolusi Musim Semi Aljazair Menuntut
Presiden Abdelaziz Bouteflika Mundur
Demo menuntut Presiden Abdelaziz
Bouteflika mundur sudah berlangsung beberapa kali di bulan Februari ini.
Demo-demo ini terinspirasi demos serupa di Tunisia dan Mesir yang telah
berhasil menumbangkan rezim berkuasa di dua negara tersebut.
Sebenarnya aksi demo massal telah
dilarang di Aljazair berdasarkan UU keadaan darurat yang diberlalukan sejak
tahun 1992. Sejak itu, aksi protes hanya diizinkan dengan basis kasus per kasus
di luar ibukota Aljazair, Algiers. (http://hizbut-tahrir.or.id/2011/02/14/revolusi-mesir-menular-ke-yaman-aljazair-dan-iran/)
Pada Sabtu, 12 Februari lalu, aksi
demo yang dilakukan sekitar 2 ribu orang, berhasil dibubarkan oleh pasukan
keamanan Aljazair. Saat itu, hampir 30 ribu polisi membubarkan para demonstran
yang berjalan dari Lapangan 1 May menuju Lapangan Martyrs. Dalam peristiwa itu,
polisi menangkap 14 demonstran. namun menurut kelompok oposisi, 300 orang
ditangkap saat itu.
Pada Minggu, 13 Februari, aksi demo
juga terjadi di kota lain Aljazair, Annaba. Dalam aksi itu, empat polisi
mengalami luka-luka ringan saat terjadi bentrokan dengan para demonstran muda
di luar gedung pemerintah setempat. Juru bicara CNDC Khalil Moumene mengecam
apa yang disebutnya kebrutalan pasukan keamanan dan penangkapan para aktivis
oposisi.
Para pemimpin oposisi menyerukan
untuk kembali menggelar aksi demo di Algiers, ibukota Aljazair. Mereka tak
peduli meski di negeri itu telah lama diberlakukan larangan demonstrasi. Para
demonstran kembali turun ke jalan pada Jumat, 18 Februari 2011.
Demikian disampaikan koalisi
partai-partai oposisi, National Co-ordination for Change and Democracy (CNCD)
usai menggelar rapat kepemimpinan seperti diberitakan AFP, Senin
(14/2/2011). CNDC bersikeras menuntut pengunduran diri Presiden Abdelaziz
Bouteflika dikarenakan tingginya pengangguran serta melambungnya harga rumah
dan harga-harga lainnya di negeri itu.
Aksi besar-besaran terjadi Jumat 18 Februari, meniru apa yang telah
dilakukan rakyat Tunisia dan Mesir yang telah menumbangkan tirani kekuasaan
Presiden Abdelaziz Bouteflika yang juga juga telah berlangsung cukup lama lebih
11 tahun sejak 1999 itu.Mungkin kita akan menyaksikan lagi Breaking News
detik-detik kejatuhan seoarang Presiden langsung dari Ibukata Aljazair, Algier,
atau dari beberapa negara Arab lainnya seprti Yaman, Sudan, Yordania, Iran dan
lain-lain yang juga sudah melakukan demo-demo serupa, seperti di Kairo beberapa
waktu yang lalu.
Apapun yang terjadi, kita berharap
agar demo-demo itu tetap proporsional dan terkendali, agar korban yang jatuh
tidak terlalu banyak dan tidak terlalu berdampak terhadap kestabilan politik
dan keamanan secara keseluruhan di negara-negara Arab, karena dapat mengganggu
kestabilan dan keamanan secara global. (http://www.voa-islam.com/lintasberita/eramuslim/2011/02/04/13135/
2.1.2 Dampak Revolusi musim semi di
Aljazair
Kerusuhan yang meluas di Aljazair dapat mempengaruhi ekonomi dunia.
Meski angka pengangguran tinggi dan kemiskinan merupakan keadaan umum negara
salah satu pengekspor minyak terbesar itu, para pengamat mengatakan bahwa
revolusi gaya Mesir tidak akan terjadi di sana, karena pemerintah bisa
memanfaatkan kekayaan minyak mereka untuk menghibur rakyat.
Negara-negara Arab yang lain juga telah merasakan riak-riak revolusi
Mesir dan Tunisia. Raja Yordania, Abdullah, mencopot PM-nya setelah muncul
demo-demo. Di Yaman, Presiden Abdullah Saleh berjanji di hadapan para
oposisinya untuk tidak mencalonkan diri lagi dalam pemilu yang akan datang.
Para penggerak protes di Aljazair – yang mengatakan bahwa gerakan
mereka sebagian diilhami peristiwa di Mesir dan Tunisia – mengatakan bahwa
polisi Aljazair mungkin dapat mengusir massa sebelum mereka beraksi di ibukota,
atau demo-demo yang sama muncul di kota-kota lain. “Rakyat Aljazair harus
diijinkan untuk mengekpresikan diri secara bebas, dan melakukan demo damai di
Algiers serta di tempat-tempat lain.” Demikian sebuah pernyataan yang
dikeluarkan Amnesty International (yang berpusat di Inggris). “Kami mendesak
para penguasa Aljazair untuk tidak menyambut tuntuta rakyat dengan kekuatan
yang berlebihan.” Banyak orang Aljazair khawatir terjadi kembali konflik brutal
beberapa tahun lalu, yang memakan 200.000 korban.
Para pemrotes kali ini memang tidak menyerukan untuk menjatuhkan
Presiden Abdelaziz Bouteflika. Namun, napas anti pemerintah sudah terasa
memenuhi udara. Sebuah gambar karikatur di koranLa Liberte menyindir
bahwa Aljazair kalah 1-0 dari Mesir, dan harus menyamakan skor itu.
Dengan terjadinya pemogokan dan kerusuhan di beberapa tempat,
termasuk lima hari kerusuhan pada bulan Januari, suasana Ajazair memang sedang tegang. Sudah
terjadi aksi dan usaha bunuh diri, termasuk usaha bakar diri oleh seorang
pemuda yang mengawali protes-protes di Tunisia di pertengahan Desember.
Pemerintah Aljazair mengatakan pelarangan demo dilakukan demi
kepentingan umum, bukan sebagai usaha menentang protes. Mereka mengatakan bahwa
pemerintah telah berusaha keras untuk menyediakan lapangan kerja baru dan
memperbaiki pelayanan-pelayanan publik.
Dalam rangka mengatasi ketegangan, penguasa telah menurunkan harga
gula dan minyak goreng, membeli banyak tepung untuk menjamin pasokan roti, dan
berjanji akan menghapus undang-undang keadaan darurat yang telah berlaku selama
19 tahun, dalam ‘waktu yang sangat dekat’. Protes tersebut tidak
didukung oleh organisasi-organisasi perdagangan Aljazair, partai-partai oposisi
terbesar atau kelompok-kelompok radikal Islam yang dilarang pada tahun 1990an.
Namun masih tetap mempengaruhi akar rumput.Gerkan protes itu tampaknya akan
berlangsung keras, tapi tak akan mengoyahkan kestabilan rejim berkuasa,” kata
Eurasia Group, sebuah lembaga konsultan politik Aljazair.
2.2 Krisis Sandera di Aljazair
Krisis penyanderaan puluhan warga asing di Aljazair belum juga
berakhir. Meskipun pasukan Aljazair telah melakukan operasi militer untuk
membebaskan para sandera, yang ditawan kelompok militan sayap Al Qaeda itu,
nasib para korban tersebut belum bisa dipastikan.
Hingga Jumat (18/1/2013), pernyataan berbeda-beda yang disampaikan
pihak terkait telah mengacaukan pemahaman terhadap peristiwa dan membuat berang
para pemimpin Barat.
Pemerintah Aljazair mengatakan, serangan terhadap militan telah
berakhir. Namun, Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan, ”Insiden teroris
masih berlangsung.” Tidak ada rincian lebih lanjut atas pernyataan-pernyataan
itu.
Menteri Dalam Negeri Perancis Manuel Valls mengatakan, situasi masih
tetap keruh dan tak pasti. Para pejabat Aljazair sebelumnya mengatakan, enam
sandera dan delapan milisi penyandera tewas dalam serangan hari Kamis. Sumber
lain menyebutkan, 25 sandera melarikan diri dan 4 lainnya telah dibebaskan.
Kantor berita Associated Press (AP) menyebutkan, enam orang tewas,
termasuk warga Inggris, Filipina, dan Aljazair. Namun, pihak penyandera
mengklaim, sedikitnya 34 sandera telah tewas dalam serangan pasukan Aljazair,
Kamis.
Para sandera dari Irlandia dan Norwegia dilaporkan telah melarikan
diri dari In Amenas. Namun, puluhan lainnya masih belum ditemukan, yakni para
sandera dari AS, Inggris, Perancis, Norwegia, Romania, Malaysia, Jepang,
Aljazair, dan para milisi itu sendiri.
”Situasi yang berkembang dan banyak detail lain pun belum jelas.
Namun, tanggung jawab atas peristiwa tragis dua hari terakhir ini tetap berada
di tangan para teroris yang memilih menyerang para pekerja tak bersalah,
membunuh beberapa orang, dan menyandera yang lain,” kata Menteri Luar Negeri
Inggris William Hague.
2.2.1 WNI Selamat
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI membenarkan bahwa ada satu
warga negara Indonesia di antara para sandera. Namun, WNI bernama Andri Ansari,
yang bekerja di perusahaan eksplorasi minyak BP, berhasil lolos.
Menurut juru bicara Kemlu, Michael Tene, Andri telah diterbangkan ke
London, Inggris, oleh perusahaannya itu sejak Kamis dan akan dipulangkan ke
Indonesia dalam waktu dekat.
Kantor berita Malaysia, Bernama, mengutip pernyataan Menlu Malaysia
Datuk Seri Anifah Aman, yang membenarkan bahwa terdapat dua warga Malaysia di
antara para sandera itu. Anifah menyatakan, ia telah meminta Menlu Aljazair Mourad Medelci
untuk memastikan pembebasan dan keselamatan dua warga negara Malaysia itu.
Militer Aljazair, yang memiliki banyak pengalaman memerangi kelompok
garis keras, menepis tawaran bantuan asing. Hanya mereka yang melakukan operasi
pembebasan para sandera dan mengendalikan informasi kepada publik, bahkan
kepada para pemimpin Barat.
2.2.2 Dalam keadaan
hidup
Wakil Menlu Jepang memanggil Duta Besar Aljazair untuk Jepang,
Jumat, dan meminta agar Aljazair memprioritaskan pembebasan warganya dalam
keadaan hidup.
Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe mempersingkat kunjungannya ke
Indonesia untuk segera menangani krisis sandera ini. Dalam jumpa pers seusai
bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Merdeka, Jumat siang, Abe
mengecam aksi terorisme di Aljazair. Menurut dia, terorisme tak boleh
dibiarkan. ”Kami akan terus berjuang melawan terorisme,” ujarnya.
Abe menambahkan, Pemerintah Jepang bekerja sama dengan pihak terkait
lainnya untuk memperoleh informasi selengkap mungkin seputar apa yang terjadi
di Aljazair. Ia meminta Aljazair menjadikan perlindungan korban sebagai
prioritas.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta mengaku telah
berkoordinasi dengan Inggris dan Aljazair untuk memetakan situasi di lapangan
dan berusaha membebaskan para sandera dalam keadaan selamat.
Sebelumnya, Pemerintah AS telah mengirim sebuah pesawat tak berawak
untuk memantau situasi di ladang gas yang terletak di pedalaman Gurun Sahara,
sekitar 1.200 kilometer dari ibu kota Algiers. Belum ada laporan hasil
pengamatan itu.
2.2.3 Melarikan diri
2.2.3 Melarikan diri
Para milisi, yang diperkirakan berjumlah sekitar 20 orang, menyerbu
ladang gas In Amenas yang dioperasikan bersama oleh BP, Statoil (Norwegia), dan
Sonatrach (Aljazair), Rabu lalu. Pasukan keamanan Aljazair langsung bergerak
mengepung lokasi penyanderaan itu.
Hari Kamis, pasukan Aljazair langsung menyerbu. Serangan itu
dilaporkan melibatkan helikopter tempur. Algiers menyatakan, pihaknya melakukan
tindakan keras karena kelompok militan itu berusaha melarikan diri dengan para
sandera.
Keputusan Pemerintah Aljazair itu disayangkan negara-negara tempat
para sandera berasal. Inggris, AS, dan beberapa negara lain menyatakan sama
sekali tidak diberi tahu sebelumnya soal rencana serangan tersebut.
PM Inggris David Cameron sampai dua kali menelepon PM Aljazair
Abdelmalek Sellal, mendesak agar setiap tindakan dikonsultasikan dulu dengan
negara-negara asal para sandera.
Menteri Dalam Negeri Aljazair Dahou Ould Kablia mengatakan, kelompok
militan ini berasal dari negaranya, bukan dari Mali atau Libya. Kelompok ini
menamakan diri ”Batalyon Darah”, yang dipimpin salah satu tokoh jaringan Al
Qaeda di Afrika Utara (AQIM), Mokhtar Belmokhtar.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari permasalahan diatas dapat disimpulkan bahwa
semua negara entah itu dibelahan bumi bagian barat, timur, benua Amerika,
Afrika, Eropa, maupun Asia pasti akan mengalami krisis. Entah itu bersumber
dari masalah ekonomi, politik, sosial, maupun budaya.
Salah satunya seperti yang terjadi di Aljazair,
seperti Revolusi Musim Semi dan Krisis sandera terhadap warga asing yang baru
terjadi beberapa tahun belakangan ini. Yang semua masalah ini lebih banyak
terjadi karena masalah ekonomi dan politik. Oleh karena itu sudah seharusnya
pemerintah Aljazair mampu mengatasi permasalahan warga negaranya agar tidak
terjadi krisis-krisis yang bisa menyababkan banyak korban baik itu warga sipil
maupun warga negara asing.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ahmadhaes.wordpress.com/2011/02/14/revolusi-mesir-merembet-ke-aljazair/ (diakses pada hari minggu, 13 Oktober 2013, pukul 20.00
WIB)
https://www.google.com/#psj=1&q=dampak+revolusi+aljazair (diakses pada hari minggu, 13 Oktober 2013, pukul 20.00
WIB)
http://hizbut-tahrir.or.id/2011/02/14/revolusi-mesir-menular-ke-yaman-aljazair-dan-iran/ (diakses pada hari minggu, 13 Oktober 2013, pukul 20.00
WIB)
http://internasional.kompas.com/read/2013/01/19/08093923/Krisis.Sandera.di.Aljazair.Belum.Berakhir (diakses pada
hari minggu, 13 Oktober 2013, pukul 20.00 WIB)
http://www.voa-islam.com/lintasberita/eramuslim/2011/02/04/13135/cegah-terjadinya-revolusi-rakyat-aljazair-janji-adanya-perubahan/ (diakses pada hari minggu, 13 Oktober 2013, pukul 20.00
WIB)


0 komentar:
Posting Komentar