11. PERMULAAN MANUSIA BERLAYAR
A. Menyeberangi Sungai
Manusia
zaman purba menyeberangi sungai menunggangi batang kayu dengan kedu kaki
terendam didalam air. Ia mendayung dengan kedua belah tangan.meskipun lambat
sampai juga ia diseberang.
Seperti kalian ketahui, mereka hidup dari
berburu binatang, hasil buruan itu harus dibawa pulang dengan menyeberangi
sungai, sulit bila hanya menggunakan sebatang pohon maka diikatnya dua tiga
batang pohon sehingga jadilah sebuah rakit. Lebih banyak batang pohon yang diikat
berjajar, lebih luas rakit itu dan muatannyapun bertambah banyak pula.
Lama-kelamaan dibuatnya gubuk kecil diatas rakititu untuk berlindung dari hujan
dan panas.
Mereka
menggunakan kayu sebagai pendayung, selain rakit dari kayu, kulit binatang juga
digunakan sebagai sampan. Bentuknya bulat seperti ember plastik. Lucu tetapi
memang begitulah awal pelayaran nenek moyang kita.
Sekarang
batang-batang bambu yang diikat menjadi rakit menyelusuri sungai. Ditempat
tujuan ikatannya dilepas, karena bambu selanjutnya diangkut dengan Truk.
1. Sampan Kayu
Kayu digunakan
oleh manusia purba karena kayu lebih mudah didapat hanya saja untuk
menyeberangi sungai ...kayu ini ternyata sangat lambat karena batang pohon itu
berat. Lama-kelamaan timbul pikiran orang untuk membuat
batang pohon yang ringan.
Dengan alat
yang sederhana dilubanginya bagian atas lubang kayu itu, kemudian diseretnya
kedalam sungai. Ternyata batang kayu itu lebih cepat dan laju jalannya
Dari waktu ke
waktu batang kayu untuk menyeberangi itu mengalami peningkatan lubang diatasnya
lebih diperbesar hingga terdapat ruangan yang agak luas sehingga batang kayu
itu menjadi sangat ringan. Sekarang batang pohon itu lebih mudah dinaiki, kedua
kakinya penumpangnya tidak lagi terendam didalam air, tetapi dapat dilunjurkan
didalamnya
2. Bentuk Sampan
Dari catatan
sejarah dapatlah kita ketahui bahwa ada bermacam-macam bentuk sampan dibuat
orang pada zaman dahulu. Ada sampan yang dibuat dari kulit binatang. Kulit itu
di ikatnya sedemikian rupa sehingga berbentuk bulat seperti ember air. Sampan
kulit itu disebut korakel .
Orang Eskimo
yang berdiam didaerah kutub membuat sampan dari kulit binatang yang diperkuat
dengan kerangka kayu. Di bagian atas sampan diberi lubang untuk duduk. Sampan
orang Eskimo itu disebut Kayak .
Orang Indian
di Amerika membuat sampan dari kulit pohon kayu, kedua ujung sampan melengkung,
pendayungnya dari kayu yang melebarpada kedua ujungnya. Sampan ini disebut
Canoe (Kano).
Di Mesir
dahulu kala dibuat dari Papirus. Sejenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dipinggir-pinggir
sungai Nil. Papirus diikat-ikat sehingga membentuk perahu. Ditengah lebar dan
pada kedua ujungnya kecil.
Ditanah Air
kita pun telah dikenal sampan dari kayu. Bahannya dari batang pohon yang
dilubangi, bentunya seperti lesung. Sampan buatan Bali dilengkapi dengan Cadik yaitu semacam alat pelampung untuk
menjaga keseimbangan.
Di Polenesia
dikenal dua sampan yang digandengkan menjadi satu supaya lebih kokoh dan
seimbang. Sampan demikian disebut Catamaran.
3. Angin sebagai pendorong
Manusia menggunakan
dayung untuk menjalankan sampan banyak tenaga manusia digunakan untuk mendayung
sampan itu.
Penemuan angin
sebagai pendorong sampanselanjutnya diperoleh tanpa disengaja. Pada waktu
seorang berdiri diatas sampannya disebuah sungai, sampan itu melaju ketika ia
berdiri kebetulan angin bertiup dari angin belakang, rupanya angin telah
mendorong sampan itu. Pengalaman sederhana itu sangat berharga baginya juga
bagi perkembangan pelayaran, selanjutnya kejadian itu merupakan penemuan baru
bahwa angin dapat dimanfaatkan untuk mendorong sampan.
Pikiran ini
berkembangan terus. Dipancangkannya sepotong tiang kayu diatas sampan dan
dipasangnya kulit binatang sebagai layarnya. Bila angin berhembus kuat sampan
itu melaju lebih cepat.
Kini orang tak
memerlukan pendayung lagi. Tenaga manusia dihemat, orang dapat duduk-duduk
diatas sampannya dengan santai. Begitulah permulaan terciptanya kapal layar
oleh manusia pada zaman purba
Mereka merasa
sungai terlalu sempit untuk dilayari, ternyata hal itu sangat menyenangkan
karena laut lebih luas. Sampan mereka tidak bertumbuk-tumbuk lagi pada batu
atau tepian seperti disungai, lagipula angin bertiup lebih leluasa.
Sejak saat itu
lah laut menjadi perhatian mereka, pantai menjadi ramai dan tempat yang
dipandang baik menjadi tempat yang dipandang baik dijadikan tempat perahu
berlabuh, yang kemudian berkembang menjadi perlabuhan
Lautpun tidak
lagi sepi karena bermacam-macam perahu berlayar disana, suasana menjadi ramai.
B. Nenek Moyang Kita Mengarungi Samudera
a. Armada Laut Nenek Moyang Kita
Pada abad ke-7
berdirilah kerajaan Sriwijaya, wilayahnya sangat luas meliputi selat Malaka.
Kerajaan itu berkuasa atas pengawasan lalu lintas di Laut Tiongkok Selatan.
Kerajaan Sriwijaya menggantungkan kehidupan pada perdagangan, sehingga lautan
merupakan wilayah yang sangat penting sebagai tempat lalu lintas kapal-kapal
dagang.pemerintah dan perdagangannya terkenal sampai ke negeri asing.
Banyak kapal
asing yang berhubungan dagang dengan Sriwijaya. Sriwijaya berlabuh di Bandar
Sriwijaya. Kekayaan hasil bumi kita sangat menarik perhatian bangsa-bangsa
asing. Seperti Lada, Pala, Damar,Kayu Cendana dan Beras.
Orang-orang
Cina mengangkut barang dagangannya dengan kapal layar yang disebut Jung. Layarnya lebar dan tinggiterletak
ditengah dua layarnya lainnya yang kecil.
b. Bukti Peninggalan Sejarah
Berdasarkan
bukti sejarah itu tak dapat diragukan lagi bagaimana kemampuan nenek moyang
kita membuat kapal layar. Hal itu diperkuat pula dengan peninggalan sejarah
yang dapat dijumpai di dinding Gua Batu Karang dipulau Kei (pulau kecil
diperairan Arapuru) berupa gambar sampan, gambar-gambar perahu didapatkan juga
pada hiasan-hiasan Nekara perunggu alat tetabuhan.
Di dinding
Candi Brobudur dapat dilihat relief (lukisan Timbul) yang menggambarkan perahu,
juga pada dinding Candi di Bali Utara, terdapat pahatan gambar perahu.
Di Irian Jaya
terdapat peninggalan sejarah berupa kayu yang telah membatu (fosil) berbentuk
kapal perang yang dipakai nenek moyang orang Soriri untuk berperang dengan
kampung Sentani. Kapal itu panjangnya 50 m, lebarnya 10 m. Juga dapat
peninggalan purbakala berupa batu-batu dengan gambar ikan, kura-kura dan gambar
perahu dikampung Turari.
c. Bentuk Kapal Atau Perahu
Keberanian dan
kemampuan nenek moyang kita mengarungi samudera tak dapat disangkal
kebenarannya, kemampuan berlayarnya itu tentu didukung oleh keahlian mereka
membuat kapal yang memadai untuk berlayar jarak jauh. Kapal atau perahu itu
digunakan untuk mengangkut orang, barang, dan untuk menangkap ikan, juga
dipakai untuk berdagang atau berperang. Adapula kapal untuk raja apabila
baginda mengadakan upacara kebesaran atau pesiar. Malahan dibeberapa tempat ada
rakit, perahu atau kapal ysng dipergunakan sebagai rumah.
Nenek moyang
kita membuat kapal atau perahu dari kayu dan diperlengkapi dengan layar, ada
perahu seperti lesung adapula perahu papan yaitu perahu yang dibuat dari
beberapa papan. Pembuatan perahu papan lebih sulit dari perahu lesung. Perahu
lesung sudah dikenal sejak zaman dahulu. Di Asia Tenggara, Australia, dan
Belanda orang juga membuat jenis perahu lesung.
Pinggir perahu
lesung kadang-kadang ditambah dengan papan, sehingga lebih banyak muatannya
perahu ini ada yang bertiang untuk layar, adapula yang bercadik yaitu alat
disisi perahu untuk menjaga keseimbangan. Perahu lesung ada yang besar, yang
mempunyai dua atau tiga tiang layar.
d. Pembuatan Perahu Zaman Dahulu
Meskipun
bentuk perahu lesung sangat sederhana tetapi dalam pembuatannya memerlukan
keahlian dan pengalaman, terutama dalam memilih kayu, cara menebang dan cara mengeruknya,
dengan menggunakan air dan api batang kayu itu dilengkungkan lalu dikeruk dan
di isi dengan air untuk menjaga supaya kedua sisinya tidak mengatup kembali
harus dipasang kayu-kayu melintang, kalau pekerjaan pokok demikian sudah
selesai, kemudian tinggal menghaluskan dan memberi hiasan. Rasa keindahan sudah
menjadi budaya bangsa kita sejak zaman dahulu.
Membuat perahu
papan lebih sulit karena harus disambung beberapa papan. Ahli perkapalan kita
pada zaman itubelum mengenal paku logam,sekrup atau baut.papan-papan kayu itu
disambung dengan menggunakan paku kayu atau pasak. Pasak kayu biasanya terbuat
dari bambu betung yang tua tidak dapat berkarat, alat yang digunakan pun sangat
sederhana seperti kapak, pahat, dan tali-menali.
e. Perahu Layar Orang Bugis
Sampai
sekarang kita masih dapat melihat orang Bugis mengikuti jejak nenek moyangnya
yaitu menjadi pelaut yang berani. Mereka berlayar mengarungi lautan dikawasan
nusantara untuk berdagang atau mengusahakan pengangkutan antar pulau.
Pelaut-pelaut
Bugis menggunakan kapal layar yang disebut Pinsi. Meskipun kapal mereka terbuat
dari kayu tetapi kokoh, dua buah layarnya terpasang pada tiang yang sangat
tinggi dan terdapat tiga buah layar depan. Panjang kapal itu antara 10-20
meter, lebarnya antar 3-5 meter. Ditengah laut biru memang megah sekali
tampaknya, layarnya berkembang ditiup angin.
Perahu pinisi
yang terbesar dapat memuat barang lebih dari 200 ton, selain penisi dikenal juga perahu Lambo yang
mempunyai satu tiang layar, dan layar segi tiga pada layar haluannya perahu
untuk angkutan jarak dekat atau sebagai perahu penangkap ikan disebut Pajala.


0 komentar:
Posting Komentar