This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Pages

supervisi pendidikan

Supervisi pendidikan

      A.    Arti dan makna Supervisi pendidikan
1.      Konsep Supervisi
Menurut konsep kuno supervisi dilaksanakan dalam bentuk “inspeksi” atau mencari kesalahan. Sedangkan dalam pandangan modern supervisi adalah usaha untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu supervisi sebagai bantuan bagi guru dalam mengajar untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar.namun kenyataannya dimasyarakat, masih banyak orang beranggapan bahwa supervisi pendidikan identik dengan pengawasan  yang berbau inspeksi.
Akibatnya timbulah tingkah laku seperti rasa kaku, ketakutan pada atasan. Tidak berani berinisiatif, bersikap menunggu instruksi, dan sikap birokrasi lainnya bagi para guru. Sesungguhnya sikap supervisi pada awalnya adalah adanya kebutuhan sesuatu dalam landasan pengajaran dengan cara membimbing guru, memilih metode mengajar, dan mempersiapkan guru untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan kreatifitas yang tinggi dan otonom sebagai guru, sehingga pertumbuhan jabatan guru terus berlangsung. secara umum supervisi berarti upaya bantuan kepada guru agar guru dapat membantu para siswa belajar untuk menjadi lebih baik.
Menurut arti katanya, supervisi dapat diterjemahkan dengan “ melihat dari atas” atau “ melihat dari kelebihan”, jadi searti dengan pengawas, tetapi dengan pengertian yang agak berbeda dari “mengawas” sebagai “controlling”. Supervisi meskipun mengandung arti dan sering diterjemahkan sebagai pengawas atau mengawas, tetapi pada prinsifnya supervisi mempunyai arti khusus yaitu “ membantu dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan peningkatan mutu”.
Untuk ini ia harus mengetahui jalannya usaha, mengetahui kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihannya yang bekerja dan cara-cara bekerjanya (Rifai,1972:106). Untuk mengetahui semua hal itu supervisor harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Jika sudah diketahui keleemahan-kelemahannya, barulah dicarikan cara-cara menperbaiki dan meningkatkan situasi belajar mengajar. Jadi, supervisi adalah ilmu dan seni memuat langkah-langkah yang ditujukan kepada perubahan situasi yang ada dalam situasi yang diharapkan.
Secara umum supervisi berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya, agar guru mampu membantu para siswa dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dari sudut manajerial supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinasi, dan membimbing guru secara terus menerus baik individu maupun kolektif agar memahami secara efektif pelaksanaan aktivitas mengajar dalam rangka pertumbuhan murid secara kontiniu (Boardman,1953). Kemudian supervisi pendidikan mengkoordinasi, menstimulir, dan mengarahkan perkembangan guru (Brigs, 1938).
Secara umum mengapa supervisi pendidikan diperlukan dilatar belakangi oleh berkembangnya Science dan teknologi, adanya tuntutan hak asasi manusia, pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang tidak merata, suburnya birokrasi dan sistem yang bertingkat, membantu dan membina guru-guru yang kurang bermutu, pertumbuhan jabatan, peraturan dan tuntutan negara, kultural, filosofis, psikologis, dan sosiologis.
Supervisi mempunyai fungsi penilaian (evaluation) dengan jalan penelitian (research) dan merupakan usaha perbaikan (improvement). Menurut Swearingen fungsi supervisi pendidikan adalah mengkoordinir semua usaha sekolah, memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memperkuat pengalaman-pengalaman guru, menstimulasi usaha-usaha yang kreatif, memberikan fasilitas dan penilaian secara terus menerus, menganalisa situasi belajar mengajar, memberikan pengetahuan kepada setiap anggota, mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar.
Sedangkan peranan supervisi pendidikan adalah korektif, preventif, konstruktif, dan kreatif dengan sasaran memperbaiki situasi belajar mengajar dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Dalam berbagai aktivitasnya supervisor turut sebagai partisipan, sebagai pimpinan (leadership) dan menstimulir kerjasama antar anggota. Tujuan supervisi bukan menyodorkan suatu teori tetapi menganjurkan sesuai kebutuhan dan untuk mengungkapkan beberapa karakteristik esensial teori. Supervisi menurut Sergiovanni dan Satarrat (1983) belum memiliki teori tetapi memiliki karakteristik. Suatu teori tentang praktek memperhatikan empat pernyataan kunci yaitu realitas dalam suatu konteks tertentu, apakah yang harus menjadi realitas, apakah peristiwa yang menciptakan realitas ini berarti bagi individu dan kelompok, dengan ketiga dimensi ini apa yang harus dilakukan oleh supervisor.
Sejalan dengan pendapat tersebut Rifai (1987:37) mereduksi rumusan supervisi dari sejumlah para ahli antara lain dikemukakan sebagai berikut :
  1. Supervisi merupakan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar menngajar yang lebih baik
  2. Supervisi merupakan kegiatan untuk membantu dan melayani guru agar mereka dapat menjalankan tugasnya mengajarnya lebih baik.
  3. Supervisi adalah proses peningkatan pengajaran dengan jalan bekerja sama dengan orang-orang yang bekerja sama dengan murid
  4. Supervisi berusaha meningkatkan hasil belajar murid melalui gurunya
  5. Supervisi merupakan bagian atau aspek dari administrasi khususnya yang mengenai usaha peningkatan guru sampai kepada penampilan tertentu, dan
  6. Supervisi adalah fase atau tahapan dalam administrasi sekolah, terutama mengenai harapan dan tujuan tertentu dalam pengajaran.
Dari rumusan supervisi tersebut dapat diartikan bahwa supervisor berada pada posisi yang unik dalam pembelajaran sebab tugasnya amat strategis untuk mempengaruhi keefektifan interaksi dan pelayanan belajar oleh guru. Oleh karena itu praktek supervisi disekolah didasarkan pada salah satu atau kombinasi dari manajemen ilmiah tradisional, hubungan manusia dilihat dari aspek psikologi dan sosiologi serta komunikasi dan manajemen ilmiah baru. Manajemen ilmiah tradisional menganut filsafat otokratik klasik dalam supervisi dan memandang guru sebagai pelengkap manajemen yang diharapkan melaksanakan tugas sesuai dengan kehendak manajemen artinya menggunakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik dan terukur.
            Untuk memperoleh pengajaran yang baik, perlu ada sistem supervisi yang efektif, keefektifan tersebut dapat ditegaskan sebagai berikut:
  1. Supervisi merupakan usaha untuk membantu dan melayani guru untuk meningkatkan kemampuan keguruannya
  2. Supervisi tidak langsung diarahkan kepada murid, tetapi kepada guru yang membina murid itu,dan
  3. Supervisi tidak bersifat direktif (mengarahkan) tetapi lebih banyak bersifat konsultatif (memberikan dorongan,saran, dan bimbingan).
Praktek supervisi adalah pengembangan teori yang berguna untuk memberi perhatian pada aspek-aspek kepemimpinan instrumental dalam intruksional, bersifat lebih tetis dan mengacu kepada alat pengembangan alat kebutuhan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu bagi supervisor. Kemudian aspek substansif mengacu pada kepemimpinan itu sendiri,tujuan, nilai, dan makna kepemimpinan bagi seseorang supervisor menggunakan teori-teori manajemen di implimentasikan dalam kegiatan pembelajaran sebagai bantuan bagi para guru.
2.      Permasalahan Supervisi pendidikan
Supervisi yang bermakna kurang realistis disebabkan oleh:
  1. Supervisi disamakan dengan controlling atau pekerjaan pengawasi, supervisor lebih banyak mengawasi dari pada berbagi ide pengalaman
  2. Kepentingan dan kebutuhan supervisi bukannya datang dari guri, melainkan supervisi itu sendiri menjalankan tugasnya
  3. Akibat ketidak mengerti tentang apa yang di nilai dan diamati oleh supervisor terhadap guru, akibatnya data pengamatan adalah jelas nampak tidak sistematis, bersifat sangat subyektif dan tidak jelas
  4. Pada pihak lain kebanyakan guru tidak suka disupervisi walaupun hal itu merupakan bagian dari proses pendidikan dan pekerjaan mereka
Bolla (1984) mengemukakan bahwa supervisi merupakan keharusan bagi guru dengan alasan sulit untuk memisahkan, merefleksikan dan menyadari tingkah lakunya bila sedang berinteraksi dengan siswa dikelas. Beberapa problema yang dihadapi guru dilihat dari perbedaan antara lain: perbedaan latar belakang pendidikan, orientasi profesional, tujuan dan keterampilan, kesanggupan jasmani, kualifikasi kemampuan memimpin, kondisi psikologis, dan pengalaman mengajar. Perbedaan ini dapat terjadi karena beragamnya jenis dan jenjang pendidikan.
Peranan administratif yang tercermin dari prilaku yang diobserfasi dalam melaksanakan supervisi diklasifikasikan kedalam tiga kategori utama yakni:
  1. Antarpesonal pemimpin dan penghubung
  2. Informasi yang meliputi pemonitor, penyebar luaskan, dan pembicara
  3. Keputusan yang meliputi penguasa, penangkal gangguan, pembagi sumber daya, dan perunding
3.      Tujuan Supervisi Pendidikan
Adapun tujuan supervisi pendididkan menurut Peter (1894) adalah:
  1. Membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar
  2. Membantu guru dalam menterjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses belajar mengajar
  3. Dan, membantu guru dalam mengembangkan staf sekolah
Supervisi pendidikan memiliki dua karakteristik yaitu:
  1. Bersifat terapan
  2. Melibatkan aktivitas manusia dengan menempatkan keperluan yang unik padaa inquiri dan pengembangan atau preskripsi bagi praktek supervisi.
4.      Prinsip Supervisi Pendidikan
Prinsip supervisi pendidikan antara lain adalah:ilmiah yang berarti sistematis dilaksanakan secara tersusun, kontiniu, teratur, objektif, demokratis, kooperatif, menggunakan alat, konstruktif dan kreatif.
5.      Teknik-Teknik Supervisi Pendidikan
Teknik supervisi terdiri dari :
  1. Teknik individual dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar meliputi kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri,dan
  2. Teknik supervisi kelompok dalam rangka pengembangan staf meliputi pertemuan orientasi bagi guru baru, panitia penyelenggara, rapat guru, studi guru, diskusi sebagai proses kelompok, tukar-menukar pengalaman, lokakarya,diskusi panel, seminar, simposium, demonstration teaching, perpustakaan jabatan, buletin supervisi, membaca langsung, mengikuti kursus, organisasi jabatan, curiculum laboratory, perjalanan sekolah.
Teknik supervisi yang dianggap bermanfaat  oleh Sutisna (1983:226) yaitu:kunjungan kelas,pembicaraan individual,diskusi kelompok, demonstrasi mengajar,kunjungan kelas antar guru, pengembangan kurikulum, buletin supervisi, perpustakaan profesional, lokakarya,dan survei sekolah 0 komentar

supervisi pendidikan

Supervisi pendidikan

      A.    Arti dan makna Supervisi pendidikan
1.      Konsep Supervisi
Menurut konsep kuno supervisi dilaksanakan dalam bentuk “inspeksi” atau mencari kesalahan. Sedangkan dalam pandangan modern supervisi adalah usaha untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu supervisi sebagai bantuan bagi guru dalam mengajar untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar.namun kenyataannya dimasyarakat, masih banyak orang beranggapan bahwa supervisi pendidikan identik dengan pengawasan  yang berbau inspeksi.
Akibatnya timbulah tingkah laku seperti rasa kaku, ketakutan pada atasan. Tidak berani berinisiatif, bersikap menunggu instruksi, dan sikap birokrasi lainnya bagi para guru. Sesungguhnya sikap supervisi pada awalnya adalah adanya kebutuhan sesuatu dalam landasan pengajaran dengan cara membimbing guru, memilih metode mengajar, dan mempersiapkan guru untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan kreatifitas yang tinggi dan otonom sebagai guru, sehingga pertumbuhan jabatan guru terus berlangsung. secara umum supervisi berarti upaya bantuan kepada guru agar guru dapat membantu para siswa belajar untuk menjadi lebih baik.
Menurut arti katanya, supervisi dapat diterjemahkan dengan “ melihat dari atas” atau “ melihat dari kelebihan”, jadi searti dengan pengawas, tetapi dengan pengertian yang agak berbeda dari “mengawas” sebagai “controlling”. Supervisi meskipun mengandung arti dan sering diterjemahkan sebagai pengawas atau mengawas, tetapi pada prinsifnya supervisi mempunyai arti khusus yaitu “ membantu dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan peningkatan mutu”.
Untuk ini ia harus mengetahui jalannya usaha, mengetahui kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihannya yang bekerja dan cara-cara bekerjanya (Rifai,1972:106). Untuk mengetahui semua hal itu supervisor harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Jika sudah diketahui keleemahan-kelemahannya, barulah dicarikan cara-cara menperbaiki dan meningkatkan situasi belajar mengajar. Jadi, supervisi adalah ilmu dan seni memuat langkah-langkah yang ditujukan kepada perubahan situasi yang ada dalam situasi yang diharapkan.
Secara umum supervisi berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya, agar guru mampu membantu para siswa dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dari sudut manajerial supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinasi, dan membimbing guru secara terus menerus baik individu maupun kolektif agar memahami secara efektif pelaksanaan aktivitas mengajar dalam rangka pertumbuhan murid secara kontiniu (Boardman,1953). Kemudian supervisi pendidikan mengkoordinasi, menstimulir, dan mengarahkan perkembangan guru (Brigs, 1938).
Secara umum mengapa supervisi pendidikan diperlukan dilatar belakangi oleh berkembangnya Science dan teknologi, adanya tuntutan hak asasi manusia, pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang tidak merata, suburnya birokrasi dan sistem yang bertingkat, membantu dan membina guru-guru yang kurang bermutu, pertumbuhan jabatan, peraturan dan tuntutan negara, kultural, filosofis, psikologis, dan sosiologis.
Supervisi mempunyai fungsi penilaian (evaluation) dengan jalan penelitian (research) dan merupakan usaha perbaikan (improvement). Menurut Swearingen fungsi supervisi pendidikan adalah mengkoordinir semua usaha sekolah, memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memperkuat pengalaman-pengalaman guru, menstimulasi usaha-usaha yang kreatif, memberikan fasilitas dan penilaian secara terus menerus, menganalisa situasi belajar mengajar, memberikan pengetahuan kepada setiap anggota, mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar.
Sedangkan peranan supervisi pendidikan adalah korektif, preventif, konstruktif, dan kreatif dengan sasaran memperbaiki situasi belajar mengajar dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Dalam berbagai aktivitasnya supervisor turut sebagai partisipan, sebagai pimpinan (leadership) dan menstimulir kerjasama antar anggota. Tujuan supervisi bukan menyodorkan suatu teori tetapi menganjurkan sesuai kebutuhan dan untuk mengungkapkan beberapa karakteristik esensial teori. Supervisi menurut Sergiovanni dan Satarrat (1983) belum memiliki teori tetapi memiliki karakteristik. Suatu teori tentang praktek memperhatikan empat pernyataan kunci yaitu realitas dalam suatu konteks tertentu, apakah yang harus menjadi realitas, apakah peristiwa yang menciptakan realitas ini berarti bagi individu dan kelompok, dengan ketiga dimensi ini apa yang harus dilakukan oleh supervisor.
Sejalan dengan pendapat tersebut Rifai (1987:37) mereduksi rumusan supervisi dari sejumlah para ahli antara lain dikemukakan sebagai berikut :
  1. Supervisi merupakan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar menngajar yang lebih baik
  2. Supervisi merupakan kegiatan untuk membantu dan melayani guru agar mereka dapat menjalankan tugasnya mengajarnya lebih baik.
  3. Supervisi adalah proses peningkatan pengajaran dengan jalan bekerja sama dengan orang-orang yang bekerja sama dengan murid
  4. Supervisi berusaha meningkatkan hasil belajar murid melalui gurunya
  5. Supervisi merupakan bagian atau aspek dari administrasi khususnya yang mengenai usaha peningkatan guru sampai kepada penampilan tertentu, dan
  6. Supervisi adalah fase atau tahapan dalam administrasi sekolah, terutama mengenai harapan dan tujuan tertentu dalam pengajaran.
Dari rumusan supervisi tersebut dapat diartikan bahwa supervisor berada pada posisi yang unik dalam pembelajaran sebab tugasnya amat strategis untuk mempengaruhi keefektifan interaksi dan pelayanan belajar oleh guru. Oleh karena itu praktek supervisi disekolah didasarkan pada salah satu atau kombinasi dari manajemen ilmiah tradisional, hubungan manusia dilihat dari aspek psikologi dan sosiologi serta komunikasi dan manajemen ilmiah baru. Manajemen ilmiah tradisional menganut filsafat otokratik klasik dalam supervisi dan memandang guru sebagai pelengkap manajemen yang diharapkan melaksanakan tugas sesuai dengan kehendak manajemen artinya menggunakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik dan terukur.
            Untuk memperoleh pengajaran yang baik, perlu ada sistem supervisi yang efektif, keefektifan tersebut dapat ditegaskan sebagai berikut:
  1. Supervisi merupakan usaha untuk membantu dan melayani guru untuk meningkatkan kemampuan keguruannya
  2. Supervisi tidak langsung diarahkan kepada murid, tetapi kepada guru yang membina murid itu,dan
  3. Supervisi tidak bersifat direktif (mengarahkan) tetapi lebih banyak bersifat konsultatif (memberikan dorongan,saran, dan bimbingan).
Praktek supervisi adalah pengembangan teori yang berguna untuk memberi perhatian pada aspek-aspek kepemimpinan instrumental dalam intruksional, bersifat lebih tetis dan mengacu kepada alat pengembangan alat kebutuhan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu bagi supervisor. Kemudian aspek substansif mengacu pada kepemimpinan itu sendiri,tujuan, nilai, dan makna kepemimpinan bagi seseorang supervisor menggunakan teori-teori manajemen di implimentasikan dalam kegiatan pembelajaran sebagai bantuan bagi para guru.
2.      Permasalahan Supervisi pendidikan
Supervisi yang bermakna kurang realistis disebabkan oleh:
  1. Supervisi disamakan dengan controlling atau pekerjaan pengawasi, supervisor lebih banyak mengawasi dari pada berbagi ide pengalaman
  2. Kepentingan dan kebutuhan supervisi bukannya datang dari guri, melainkan supervisi itu sendiri menjalankan tugasnya
  3. Akibat ketidak mengerti tentang apa yang di nilai dan diamati oleh supervisor terhadap guru, akibatnya data pengamatan adalah jelas nampak tidak sistematis, bersifat sangat subyektif dan tidak jelas
  4. Pada pihak lain kebanyakan guru tidak suka disupervisi walaupun hal itu merupakan bagian dari proses pendidikan dan pekerjaan mereka
Bolla (1984) mengemukakan bahwa supervisi merupakan keharusan bagi guru dengan alasan sulit untuk memisahkan, merefleksikan dan menyadari tingkah lakunya bila sedang berinteraksi dengan siswa dikelas. Beberapa problema yang dihadapi guru dilihat dari perbedaan antara lain: perbedaan latar belakang pendidikan, orientasi profesional, tujuan dan keterampilan, kesanggupan jasmani, kualifikasi kemampuan memimpin, kondisi psikologis, dan pengalaman mengajar. Perbedaan ini dapat terjadi karena beragamnya jenis dan jenjang pendidikan.
Peranan administratif yang tercermin dari prilaku yang diobserfasi dalam melaksanakan supervisi diklasifikasikan kedalam tiga kategori utama yakni:
  1. Antarpesonal pemimpin dan penghubung
  2. Informasi yang meliputi pemonitor, penyebar luaskan, dan pembicara
  3. Keputusan yang meliputi penguasa, penangkal gangguan, pembagi sumber daya, dan perunding
3.      Tujuan Supervisi Pendidikan
Adapun tujuan supervisi pendididkan menurut Peter (1894) adalah:
  1. Membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar
  2. Membantu guru dalam menterjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses belajar mengajar
  3. Dan, membantu guru dalam mengembangkan staf sekolah
Supervisi pendidikan memiliki dua karakteristik yaitu:
  1. Bersifat terapan
  2. Melibatkan aktivitas manusia dengan menempatkan keperluan yang unik padaa inquiri dan pengembangan atau preskripsi bagi praktek supervisi.
4.      Prinsip Supervisi Pendidikan
Prinsip supervisi pendidikan antara lain adalah:ilmiah yang berarti sistematis dilaksanakan secara tersusun, kontiniu, teratur, objektif, demokratis, kooperatif, menggunakan alat, konstruktif dan kreatif.
5.      Teknik-Teknik Supervisi Pendidikan
Teknik supervisi terdiri dari :
  1. Teknik individual dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar meliputi kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri,dan
  2. Teknik supervisi kelompok dalam rangka pengembangan staf meliputi pertemuan orientasi bagi guru baru, panitia penyelenggara, rapat guru, studi guru, diskusi sebagai proses kelompok, tukar-menukar pengalaman, lokakarya,diskusi panel, seminar, simposium, demonstration teaching, perpustakaan jabatan, buletin supervisi, membaca langsung, mengikuti kursus, organisasi jabatan, curiculum laboratory, perjalanan sekolah.
Teknik supervisi yang dianggap bermanfaat  oleh Sutisna (1983:226) yaitu:kunjungan kelas,pembicaraan individual,diskusi kelompok, demonstrasi mengajar,kunjungan kelas antar guru, pengembangan kurikulum, buletin supervisi, perpustakaan profesional, lokakarya,dan survei sekolah 0 komentar

supervisi pendidikan

Supervisi pendidikan

      A.    Arti dan makna Supervisi pendidikan
1.      Konsep Supervisi
Menurut konsep kuno supervisi dilaksanakan dalam bentuk “inspeksi” atau mencari kesalahan. Sedangkan dalam pandangan modern supervisi adalah usaha untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu supervisi sebagai bantuan bagi guru dalam mengajar untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar.namun kenyataannya dimasyarakat, masih banyak orang beranggapan bahwa supervisi pendidikan identik dengan pengawasan  yang berbau inspeksi.
Akibatnya timbulah tingkah laku seperti rasa kaku, ketakutan pada atasan. Tidak berani berinisiatif, bersikap menunggu instruksi, dan sikap birokrasi lainnya bagi para guru. Sesungguhnya sikap supervisi pada awalnya adalah adanya kebutuhan sesuatu dalam landasan pengajaran dengan cara membimbing guru, memilih metode mengajar, dan mempersiapkan guru untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan kreatifitas yang tinggi dan otonom sebagai guru, sehingga pertumbuhan jabatan guru terus berlangsung. secara umum supervisi berarti upaya bantuan kepada guru agar guru dapat membantu para siswa belajar untuk menjadi lebih baik.
Menurut arti katanya, supervisi dapat diterjemahkan dengan “ melihat dari atas” atau “ melihat dari kelebihan”, jadi searti dengan pengawas, tetapi dengan pengertian yang agak berbeda dari “mengawas” sebagai “controlling”. Supervisi meskipun mengandung arti dan sering diterjemahkan sebagai pengawas atau mengawas, tetapi pada prinsifnya supervisi mempunyai arti khusus yaitu “ membantu dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan peningkatan mutu”.
Untuk ini ia harus mengetahui jalannya usaha, mengetahui kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihannya yang bekerja dan cara-cara bekerjanya (Rifai,1972:106). Untuk mengetahui semua hal itu supervisor harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Jika sudah diketahui keleemahan-kelemahannya, barulah dicarikan cara-cara menperbaiki dan meningkatkan situasi belajar mengajar. Jadi, supervisi adalah ilmu dan seni memuat langkah-langkah yang ditujukan kepada perubahan situasi yang ada dalam situasi yang diharapkan.
Secara umum supervisi berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya, agar guru mampu membantu para siswa dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dari sudut manajerial supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinasi, dan membimbing guru secara terus menerus baik individu maupun kolektif agar memahami secara efektif pelaksanaan aktivitas mengajar dalam rangka pertumbuhan murid secara kontiniu (Boardman,1953). Kemudian supervisi pendidikan mengkoordinasi, menstimulir, dan mengarahkan perkembangan guru (Brigs, 1938).
Secara umum mengapa supervisi pendidikan diperlukan dilatar belakangi oleh berkembangnya Science dan teknologi, adanya tuntutan hak asasi manusia, pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang tidak merata, suburnya birokrasi dan sistem yang bertingkat, membantu dan membina guru-guru yang kurang bermutu, pertumbuhan jabatan, peraturan dan tuntutan negara, kultural, filosofis, psikologis, dan sosiologis.
Supervisi mempunyai fungsi penilaian (evaluation) dengan jalan penelitian (research) dan merupakan usaha perbaikan (improvement). Menurut Swearingen fungsi supervisi pendidikan adalah mengkoordinir semua usaha sekolah, memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memperkuat pengalaman-pengalaman guru, menstimulasi usaha-usaha yang kreatif, memberikan fasilitas dan penilaian secara terus menerus, menganalisa situasi belajar mengajar, memberikan pengetahuan kepada setiap anggota, mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar.
Sedangkan peranan supervisi pendidikan adalah korektif, preventif, konstruktif, dan kreatif dengan sasaran memperbaiki situasi belajar mengajar dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Dalam berbagai aktivitasnya supervisor turut sebagai partisipan, sebagai pimpinan (leadership) dan menstimulir kerjasama antar anggota. Tujuan supervisi bukan menyodorkan suatu teori tetapi menganjurkan sesuai kebutuhan dan untuk mengungkapkan beberapa karakteristik esensial teori. Supervisi menurut Sergiovanni dan Satarrat (1983) belum memiliki teori tetapi memiliki karakteristik. Suatu teori tentang praktek memperhatikan empat pernyataan kunci yaitu realitas dalam suatu konteks tertentu, apakah yang harus menjadi realitas, apakah peristiwa yang menciptakan realitas ini berarti bagi individu dan kelompok, dengan ketiga dimensi ini apa yang harus dilakukan oleh supervisor.
Sejalan dengan pendapat tersebut Rifai (1987:37) mereduksi rumusan supervisi dari sejumlah para ahli antara lain dikemukakan sebagai berikut :
  1. Supervisi merupakan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar menngajar yang lebih baik
  2. Supervisi merupakan kegiatan untuk membantu dan melayani guru agar mereka dapat menjalankan tugasnya mengajarnya lebih baik.
  3. Supervisi adalah proses peningkatan pengajaran dengan jalan bekerja sama dengan orang-orang yang bekerja sama dengan murid
  4. Supervisi berusaha meningkatkan hasil belajar murid melalui gurunya
  5. Supervisi merupakan bagian atau aspek dari administrasi khususnya yang mengenai usaha peningkatan guru sampai kepada penampilan tertentu, dan
  6. Supervisi adalah fase atau tahapan dalam administrasi sekolah, terutama mengenai harapan dan tujuan tertentu dalam pengajaran.
Dari rumusan supervisi tersebut dapat diartikan bahwa supervisor berada pada posisi yang unik dalam pembelajaran sebab tugasnya amat strategis untuk mempengaruhi keefektifan interaksi dan pelayanan belajar oleh guru. Oleh karena itu praktek supervisi disekolah didasarkan pada salah satu atau kombinasi dari manajemen ilmiah tradisional, hubungan manusia dilihat dari aspek psikologi dan sosiologi serta komunikasi dan manajemen ilmiah baru. Manajemen ilmiah tradisional menganut filsafat otokratik klasik dalam supervisi dan memandang guru sebagai pelengkap manajemen yang diharapkan melaksanakan tugas sesuai dengan kehendak manajemen artinya menggunakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik dan terukur.
            Untuk memperoleh pengajaran yang baik, perlu ada sistem supervisi yang efektif, keefektifan tersebut dapat ditegaskan sebagai berikut:
  1. Supervisi merupakan usaha untuk membantu dan melayani guru untuk meningkatkan kemampuan keguruannya
  2. Supervisi tidak langsung diarahkan kepada murid, tetapi kepada guru yang membina murid itu,dan
  3. Supervisi tidak bersifat direktif (mengarahkan) tetapi lebih banyak bersifat konsultatif (memberikan dorongan,saran, dan bimbingan).
Praktek supervisi adalah pengembangan teori yang berguna untuk memberi perhatian pada aspek-aspek kepemimpinan instrumental dalam intruksional, bersifat lebih tetis dan mengacu kepada alat pengembangan alat kebutuhan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu bagi supervisor. Kemudian aspek substansif mengacu pada kepemimpinan itu sendiri,tujuan, nilai, dan makna kepemimpinan bagi seseorang supervisor menggunakan teori-teori manajemen di implimentasikan dalam kegiatan pembelajaran sebagai bantuan bagi para guru.
2.      Permasalahan Supervisi pendidikan
Supervisi yang bermakna kurang realistis disebabkan oleh:
  1. Supervisi disamakan dengan controlling atau pekerjaan pengawasi, supervisor lebih banyak mengawasi dari pada berbagi ide pengalaman
  2. Kepentingan dan kebutuhan supervisi bukannya datang dari guri, melainkan supervisi itu sendiri menjalankan tugasnya
  3. Akibat ketidak mengerti tentang apa yang di nilai dan diamati oleh supervisor terhadap guru, akibatnya data pengamatan adalah jelas nampak tidak sistematis, bersifat sangat subyektif dan tidak jelas
  4. Pada pihak lain kebanyakan guru tidak suka disupervisi walaupun hal itu merupakan bagian dari proses pendidikan dan pekerjaan mereka
Bolla (1984) mengemukakan bahwa supervisi merupakan keharusan bagi guru dengan alasan sulit untuk memisahkan, merefleksikan dan menyadari tingkah lakunya bila sedang berinteraksi dengan siswa dikelas. Beberapa problema yang dihadapi guru dilihat dari perbedaan antara lain: perbedaan latar belakang pendidikan, orientasi profesional, tujuan dan keterampilan, kesanggupan jasmani, kualifikasi kemampuan memimpin, kondisi psikologis, dan pengalaman mengajar. Perbedaan ini dapat terjadi karena beragamnya jenis dan jenjang pendidikan.
Peranan administratif yang tercermin dari prilaku yang diobserfasi dalam melaksanakan supervisi diklasifikasikan kedalam tiga kategori utama yakni:
  1. Antarpesonal pemimpin dan penghubung
  2. Informasi yang meliputi pemonitor, penyebar luaskan, dan pembicara
  3. Keputusan yang meliputi penguasa, penangkal gangguan, pembagi sumber daya, dan perunding
3.      Tujuan Supervisi Pendidikan
Adapun tujuan supervisi pendididkan menurut Peter (1894) adalah:
  1. Membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar
  2. Membantu guru dalam menterjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses belajar mengajar
  3. Dan, membantu guru dalam mengembangkan staf sekolah
Supervisi pendidikan memiliki dua karakteristik yaitu:
  1. Bersifat terapan
  2. Melibatkan aktivitas manusia dengan menempatkan keperluan yang unik padaa inquiri dan pengembangan atau preskripsi bagi praktek supervisi.
4.      Prinsip Supervisi Pendidikan
Prinsip supervisi pendidikan antara lain adalah:ilmiah yang berarti sistematis dilaksanakan secara tersusun, kontiniu, teratur, objektif, demokratis, kooperatif, menggunakan alat, konstruktif dan kreatif.
5.      Teknik-Teknik Supervisi Pendidikan
Teknik supervisi terdiri dari :
  1. Teknik individual dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar meliputi kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri,dan
  2. Teknik supervisi kelompok dalam rangka pengembangan staf meliputi pertemuan orientasi bagi guru baru, panitia penyelenggara, rapat guru, studi guru, diskusi sebagai proses kelompok, tukar-menukar pengalaman, lokakarya,diskusi panel, seminar, simposium, demonstration teaching, perpustakaan jabatan, buletin supervisi, membaca langsung, mengikuti kursus, organisasi jabatan, curiculum laboratory, perjalanan sekolah.
Teknik supervisi yang dianggap bermanfaat  oleh Sutisna (1983:226) yaitu:kunjungan kelas,pembicaraan individual,diskusi kelompok, demonstrasi mengajar,kunjungan kelas antar guru, pengembangan kurikulum, buletin supervisi, perpustakaan profesional, lokakarya,dan survei sekolah 0 komentar

pembentukan sarekat islam

    A.      Meliputi Pembentukan sarekat islam

               Ekonomi rakyat yang sangat suram itu juga meliputi pedagang batik indonesia di Surakarta mereka juga merasakan tekanan pihak cina karena bahan-bahan batik, seperti kain putih, malam, dan soga. Hanya dapat diperoleh dengan perantara dagang Cina. Harga bahan batik itu dipermainkan. Untuk dapat memborong kain batik dari Indonesia, harga bahan batik di banting. Akan tetapi, jika mereka ingin melempar batik ke pasaran, bahan  usaha ini dipelopori oleh batik dinaikkan. Dengan jalan demikian. Demikianlah timbul usaha dari pengusaha batik di kota Surakarta untuk mengadakan persatuan demi melawan taktik dagang para pedagang Cina. Usaha ini dipelopori oleh Haji Samanhudi di kmpung Laweyan di kota Surakarta. Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam tahun 1911, anggota-anggotanya para pengusaha batik di kota Surakarta. Maksud utama Sarekat dagang islam itu adalah untuk memperkuat usaha dalam menghadapi para pedagang Cina. Demikianlah, berdirinya perkumpulan dagang itu jelas berdasarkan pertimbangan Ekonomi. Oleh karena itu, para pengusaha batik Indonesia itu pada umumnya memeluk agama islam. Dalam hal ini, kata “Islam” itu identik dengan kata “Indonesia” atau kata “Nasional”.kata-kata belakangan ini tidak dikenal oleh para pengusaha batik pada umumnya hanya pandai membaca huruf Arab dan Berbahasa Jawa. Demikianlah sebutan “Islam” lebih mudah di pahami oleh para anggotanya dan lebih meresap ketimbang kat “Nasional” atau kata “Indonesia”. Menurut mereka orang Cina bukanlah orang islam. Demikianlah sebutan Islm itu telah menunjukan perlawanan dari pihak Indonesia (tegasnya Jawa) terhadap golongan lain, golongan Cina.
                Berdirinya Sarekat Dagang Islam disambut baik oleh para pengusaha batik yang berharap dapat membeli bahan batik lebih murah. Meskipun demikian, untuk bergerak secara sah, Sarekat Dagang itu harus menyusun anggaran dasarnya untuk disahkan oleh pemerintah. Untuk menyusun anggaran dasar itu, Haji Sumanhudi merasa tidak mampu. Oleh karena itu, ia lalu mencari bantuan kepada seorang pelajar Indonesia yang bekerja pada perusahaan di Surabaya. Pelajar itu adalah Cokroaminoto.
                Demikianlah, Haji Samanhudi menghubungi Umar Said Cokroaminoto. Setelah bertukar pikiran, timbul gagasan dalam diri Umar Said Cokroaminoto untuk mengubah nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam saja, atas pertimbangan bahwa perkumpulan itu tidak terbatas sampai para pedagang saja tetapi juga mempunyai dasar yang lebih luas sehingga orang Islam yang bukan pedagangpun bisa menadi anggota. Gagasan Cokroaminoto itu diterima baik oleh Haji Samanhudi. Demikianlah, pada tanggal 10 september 1912 berita berdirinya Sarekat Islam itu disampaikan kepada notaris untuk selanjutnya disahkan sebagai badan hukum oleh pemerintah. Sambil menunggu pengesahan tersebut Para anggotanya nya menyiarkan kabar berdirinyaperkumpulan tersebut secara Gethok tular kapeda kawan-kawannya dilingkungan kaum muslim. Justru karena asas dan tujuan Sarekat Islam itu sangat praktis dan sesuai dengan selera kehidupan kaum muslimin. Dalam waktu singkat, perkumpulan itu telah memperoleh anggota yang besar sekali jumlahnya. Pada tanggal 30 juni 1913 diputuskan oleh pihak yang berwajib untuk menolak permohonan pengakuan Sarekat Islam sebagai badan hukum dengan penjelasan bahwa penolakan itu hanya terbatas pada perkumpulan sarekat islam pusat; cabang-cabangnya dapat diakui sebagai badan hukum. Berdasarkan penjelasan itu, cabang-cabang Sarekat Islam dianjurkan untuk mengajukan permohonan pengakuan sebagai badan hukum. Hal 122
                Pada tahun 1914 telah berdiri 56 cabang Sarekat Islam dengan pengakuan sebagai badan hukum. Cabang-cabang itu masih berdiri sebagai Sarekat Ialam lokal karena badan pusatnya tidak ada. Sebenarnya, adanya Sarekat Islam lokal itu bagi pemerintah tersebut agak sulit untuk mengaturnya. Jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pemerintah, tidak ada badan yang harus mempertanggung jawabkannya. Sarekat Islam itu sendiri yang harus dihadapkan kepada yang berwajib. Sedangkan Sarekat Islam yang lain bebas dari kesaahan dan bebas dari kesalahan atau tuduhan yang mungkin dilakukan oleh pihak pemerintah. Demikianlah, ketika pengurus pusat Sarekat Islam mengajukan permohonan pengakuan sebagai badan hukum dengan penjelasan bahwa pusat Sarekat Islam itu tidak mempunyai anggota perorangan, tetapi anggotanya terdiri dari Sarekat-sarekat Islam lokal. Maka pada tanggal 18 maret 1916, diputuskan oleh yang berwajib untuk memberikan pengakuan sebagai badan hukum. Berdirinya pusat Sarekat Islam dengan pengurus yang terdiri dari Umar Said Cokroaminoto, Agus Salim, Abdul Muis, Haji Gunawan, Wondoamiseno, Sosrokardono, Soerjopranoto, dan Alimin Prawirodirejo. Haji Samanhudi diangkat sebagai ketua kehormatan. Hal 123

    B.      Sarekat Islam dan Politik

                    Setelah Sentral Sarekat Islam diakui sebagai badan hukum, Sentral Sarekat Islam dalam bulan juli 1916 mengadakan kongresnya yang pertama dikota Bandung. Terbukti bahwa kongres Sarekat Islam yang pertama itu mendapat kunjungan yang luar biasa dari Sarekat Islam likal yang jumlahnya mencapai 80 dan mempunyai anggota kurang lebih 360.000. satu bukti bahwa perkembangan Sarekat Islam sangat pesat. Suatu hal yang sangat menarik perhatian adalah Sarekat Islam lokal itu mengirim para wakilnya untuk mengunjungi kongres nasional Sarekat Islam.  Kongres Sarekat Islam yang pertama itu memang sengaja digunakan sebagai penggalangan sebagai mengadakan demokrasi kesatuan kaum muslimin menuju kesatuan penduduk asli Indonesia. Pada waktu itu, masih berkobar aksi Hindia Weebaar. Sarekat Islam setju terhadap gagasan tegas yang dikemukakan dengan syarat bahwa pemerintah harus memberikan Dewan Perwakilan Rakyat. Demikianlah Sarekat Islam berpendirian.jadi, milisi bumi putera itu dipandang sebagai kewajiban orang-orang Indonesia. Gagasan untuk memperoleh Dewan Perwakilan Rakyat adalah lamunan karena pada waktu itu pemerintah merencanakan pembentukan “Dewan Jajahan” yang ditolak oleh kaum nasionalis Indonesia. Rencana pembentukan “Dewan Jajahan” karenanya, dibekukan dan pada tanggal 16 desember 1916 Menteri Pleyte ditugaskan untuk merencaakan Volksraad. Bagaimanapun, Sarekat Islam yang semula didirikan atas pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan keagamaan, dalam kongresnya yang pertama telah tampil kepermukaan dengan pembahasan soal-soal politik. Sejak kongres yang pertama itu, Sarekat Islam telah menunjukan corak aliran politik religius nasional.
                Dalam kongrenya yang kedua, yang diadakan di Jakarta tahun1917, Sarekat Islam menegaskan tujuannya yaitu untuk memperoleh pemerintahan sendiri. Perumusan tujuan itu masih agak kabur. Sarekat Islam belum berani menandaskan kemauan dengan kata yang jelas dan tegas, yakni “kemerdekaan”. Meskipun menurut maknanya kedua perumusan itu sama, dirasakan bahwa kata “kemerdekaan” lebih tegas dan jelas. Dalam kongres itu pun telah disinggung soal Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat yang sedang dalam taraf pembentukan. Telah diputuskan bahwa Umar Said Cokroaminoto dan Abdul Muis akan diajukan sebagai calon Sarekat Islam untuk duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Demikianlah, ada kesanggupan dari pihak Sarekat Islam untuk mengadakan kerja sama dengan pihak pemerintah jajahan. Bagaimanapun, sikap itu adalah sikap nasionalis kooperatif. Kelunakan sikap itu terus terbawa kedala sejarah perkembangan Sarekat Islam
                Ketika Dewan Perwakilan Rakyat dibuka tanggal 18 mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum, ternyata pengusulan Coktroaminoto dan Abdul Muis untuk duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat sebagai Sarekat Islam diterima baik oleh gubernur jenderal. Sejak pembukaan Dewan Perwakilan rakyat itu, wakil Sarekat Islam menunjukan aktivitasnya yang luar biasa.pada tanggal 16 november 1918, terbentuklah sayap kiri atau fraksi dalam Dewan Perwakilan Rakyat yang disebut Radicaale Concentratie. Dalam sayap kiri itu duduk dari wakil-wakil dari ISDV, Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Insulinde. Sarekat Islam menuntut agar Dewan Perwakilan Rakyat diberi wewenang legislatif. selain itu, diusulkan agar keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat diperluas dengan pengangkatan anggota-anggota yang mewakili golongan non-politik. Golongan politik ini zaman sekarang disebut dengan Golongan Karya. Mosi itu tidak ditandatangani oleh Cokroaminoto, Sastrowidjono, Dwijosewojo, Cramer, Cipto Mangunkusumo, Teeuwen, Radjiman Wedyodiputro, Abdul Muis, dan Thajeb. Nota syap kiri itu memang sangat baik untuk diperhatikan dalam pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat dinegara yang telah merdeka. Karena pada waktu itu Indonesia asih merupakan tanah jajahan, usulan itu hanya berupa lamunan belaka. Ketika laporan Herziennings Commissie dikemukakan pada tahun 1920, dan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum telah duganti oleh Jenderal Fock, terbukti bahwa nota itu sama sekali tidak diperhatikan. Dewan Perwakilan Rakyat tetap mempunyai watak sebagai badan penasihat pemerintah; keanggotaan Golongan Karya tidak direalisasikan. Demikian Nota yang di prakarsai Sarekat Islam itu menemui kegagalan ditengan jalan.


Daftar pustaka: Muljana, Slamet.2008.Kesadaran Nasional Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan,jilid 1.Yogyakarta:LkisYogykarta.
0 komentar

budi utomo

BUDI UTOMO
Ø  Latar belakang dan perkembangan Budi Utomo
            Peta bumi pendidikan banyak berubah. Pada tahun 1900 Hoofdenschool diganti dengan nama OSVIA. Kurikulum disesuaikan dengan sekolah-sekolah menengah lainnya. Sekolah “Dokter Djawa” juga mengalami reorganisasi menjadi STOVIA. Sejak tahun 1904 seorang lulusan STOVIA bisa mengejar titel dokter Eropa dalam waktu satu setengah tahun. Bahkan Drop-outs dari STOVIA diberi tempat yang memuaskan di pemerintahan. Dengan demikian golongan priyayi yang menduduki klas priyayi berdasarkan tradisi terdesak oleh golongan priyayi yang menjadi priyayi berkat pendidikan. (Poespoprodjo.1984:22)
Boedi Oetomo yang berdiri pada tanggal 20 mei 1908 adalah suatu kongkretisasi kesadaran.seperti diketahui, anggota-anggota Boedi Oetomo adalah dari kalangan budaya priyayi,di antara  lapisan-lapisan masyarakat yang ada lapisan priyayilah yang paling banyak mengalami goncangan dan perubahan. Baik karena kedekatan mereka dengan orang barat, maupun karena golongan priyayi dianggap sebagai “harapan”. (Poespoprodjo.1984:21)
Budi Utomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40 wib)
            Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40 wib)
            Pada awalnya, para pemuda itu berjuang untuk penduduk yang tinggal di Pulau Jawa dan Madura, yang untuk mudahnya disebut saja suku bangsa Jawa. Mereka mengakui bahwa mereka belum mengetahui nasib, aspirasi, dan keinginan suku-suku bangsa lain di luar Pulau Jawa, terutama Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Apa yang diketahui adalah bahwa Belanda menguasai suatu wilayah yang disebut Hindia (Timur) Belanda (Nederlandsch Oost-Indie), tetapi sejarah penjajahan dan nasib suku-suku bangsa yang ada di wilayah itu bermacam-macam, begitu pula kebudayaannya. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40 wib)
            Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua"-lah yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40 wib)
            Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman. (http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40 wib)
Dengan semboyan hendak meningkatan martabat rakyat, Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter Jawa di Yogyakarta dan termaksuk golongan priyayi rendahan, dalam tahun 1906 dan 1907 mulai mengadakan kampanye digolongan priyayi di pulau Jawa. Walaupun tidak berjalan seperti yang di harapkan, hasilnya tetap ada, seperti didaerah Jawa Tengah sendiri sejak saat itu terbuka kemungkinan adanya kerja sama diantara pejabat pribumi. Peningkatan ini akan dilaksanakan dengan membentuk “Dana Belajar”. Dalam perjalanan kampanye itu pada akhir tahun 1907, dr.Wahidin bertemu dengan Soetomo, pelajar STOVIA, di Jakarta. Dalam kampanye itu dr.Wahidin makin mendorong dan memperbesar cita-cita tersebut. Setelah Soetomo membicarakan maksud kampanye dr.Wahidin dengan teman-temannya di STOVIA.terdapat beberapa perubahan. Tujuan semula mendirikan suatu “Dana Belajar” diperluas jangkauannya. Begitulah pada hari Rabu tanggal 20 mei 1908di Jakarta pelajar-pelajar tersebut digedung STOVIA mendirikan organisasi yang diberi nama Budi utomo, dan Sutomo ditunjuk sebagai ketua.
Dari bulan mei sampai awal oktober 1908, Budi Utomo yang baru muncul itu merupakan organisasi pelajar dengan para pelajar STOVIA sebagai intinya.tujuannya merumuskan secara samar-samar yaitu:”Kemajuan Bagi Hindia”, dimana jangkauan geraknya terbatas pada penduduk pulau Jawa dan pulau Madura dan baru kemudin meluas untuk penduduk Hindia Belanda seluruhnya dengan tidak memperhatikan perbedaan keturunan, jenis kelamin, dan agama. Sampai menjelang kongres pertama terdapat 8 cabang budi utomo yaitu di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogya I, Yogya II, Magelang, Surabaya, dan Probolinggo.
Ketika kongres Budi Utomo dibuka di Yogyakarta, pimpinan beralih kepada generasi yang lebih tua, yang terutama terdiri dari priyayi-priyayi rendahan.tanpa pengalaman sedikitpun dalam hidup keorganisasian, Budi Utomo merupakan wadah dari unsur-unsur radikal dan bercorak politik seperti pada diri dr.Tjipto Mangunkusumo dan unsur yang kurang memerhatikan keduniawian yang cenderung bersifat filsafat, seperti pada diri dr. Radjiman Wedyodiningrat. Ketuanya Tirtokusumo, sebagai seorang bupati lebih banyak memerhatikan reaksi dari pemerintah kolonial daripada memerhatikan reaksi dari penduduk pribumi.
Penggurus besar memutuskan untuk membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa dan Madura dan tidak akan melibatkan diri dalam kegiatan politik. Bidang kegiatan yang dipilih oleh karena itu ialah bidang pendidikan dan budaya.pengetahuan bahasa Belanda mendapat prioritas pertama karena tanpa bahasa itu seseorang tidak dapat mengharapkankan kedudukan yang layak dalam jenjang kepegawaian kolonial. Dengan demikian Budi Utomo cenderung untuk memajukan pendidikan bagi golongan priyayi daripada bagi penduduk pribumi pada umumnya. Slogan Budi Utomo berubah dari :perjuangan untuk mempertahankan penghidupan” menjadi “ kemajuan secara serasi”.hal itu menunjukan pengaruh golongan tua yang moderat dan golongan priyayi yang lebih mengutamakan jabatannya. Dengan demikian, sikap “Proto-nasionalistis” dari para pemimpin pelajar yang kentara pada awal berdirinya Budi Utomo,kini terdesak kebelakang.
Perkembangan selanjutnya merupakan periode yang paling lamban bagi Budi Utomo. Aktivitasnya hanya sebatas penerbitan majalah bulanan Goeroe Desa dan beberapa petisi, yang dibuatnya kepada pemerintah berhubung dengan usaha meninggikan mutu sekolah menengah pertama.
Tirtokusumo berhenti pada tahun 1912 dan ketua Budi Utomo yang baru, pangeran Noto Dirodjo berusaha dengan penuh tenaga mengejar  ketertinggalan. Dengan ketua yang baru itu, perkembangan Budi Utomo tidak pesat lagi. Hasil-hasil yang pertama dicapainya oleh ketua yang berketurunan Paku Alam itu ialah perbaikan pengajaran di daerah kesultanan/kesunanan. Budi Utomo mendirikan organisasi dana belajar Darmoworo. Akan tetapi, hasilnya tidaklah begitu besar. Sukses-sukses yang kecil itu makin tidak berarti dan berada dibawah bayangan munculnya organisasi nasional lainnya, terutama:
1.      Sarekat islam, yang didirikan pada tahun 1911, berasaskan dasar hubungan spiritual agama dan kepentingan perdagangan yang sama,berkembang menjadi gerakan rakyat yang pertama dan sebenarnya di Indonesia.
2.      Indische partij, yang berdiri pada masa yang bersamaan mempropagandakan “ Nasionalisme Hindia “ dan bergerak dalam bidang politik.
Kedua partai tersebut menarik unsur-unsur yang tidak puas dari luar Budi Utomo. Sungguhpun prinsip-prinsip utama tentang netralisasi agama dan aktivitas non-politik Budi Utomo membedakan dirinya dengan organisasi-organisasi lain, ia harus menyadari kenyataan pahit bahwa selama prinsip-prinsip itu dipertahankan dengan sifat yang pasif tidaklah dapat diharapkan pengaruhnya akan makin luas.
Mulai pecahnya perang dunia 1 pada tahun 1914, kelihatan ada usaha untuk mengembalikan kekuatan yang ada pada Budi Utomo. Dengan dikirimkannya sebuah misi kenegeri Belanda oleh Kote “Indie Weerbaar” untuk pertahanan dalam tahun 1916-1917 merupakan petanda masa yang amat berhasil bagi Budi Utomo . Dwidjosewoyo sebagai wakil Budi Utomo dalam misi tersebut berhasil mengadakan pendekatan dengan pemimpin-pemimpin yang terkemuka. Keterangan menteri urusan daerah jajahan tentang pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat). Undang-undang wajib militer gagal,sebaliknya undang-undang pembentukan Volksraad disahkan pada bulan desember tahun 1916.Budi Utomo segera membentuk sebuah Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan anggota volksraad, tetapi komite itu tidak dapat berjaan sebagaimana mestinya dan akhirnya bubar.
Budi Utomo (BU) pada akhir tahun-tahun 1920-an berubah dari organisasi etnis Jawa menjadi organisasi Indonesia. Kongres BU di Yogyakarta tanggal 31 desember 1927- 1 januari 1928 memutuskan bahwa organisasi tersebut masuk menjadi anggota federasi permufakatan perhimpunan-perhimpunan politik kebangsaan Indonesia (PPPKI). Badan federasi tersebut dibentuk pada akhir tahun 1927 atas inisiatif Ir. Soekarno. Dalam kongres bulan april 1928 di Solo, pasal 2 anggaran dasar (AD)-nya ada tambahan kata-kata yang berbunyi:” dan menuju pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia “. Walaupun demikian baru dalam kongres di Solo tahun1930 organisasi tersebut menerima sebagai anggota orang jawa , madura, Bali, Lombok, dan golongan-golongan bangsa lain yang mempunyai persamaan kebudayaan.
Kongres BU pada tahun 1931 di Jakarta membicarakan tentang kemerdekaan. Dalam AD nya ada perubahan lagi, yaitu BU menjadi organisasi nasional Indonesia, terbuka bagi semua golongan bangsa indonesia. Ejaan namanya di ubah dari Budi Utomo menjadi Budi Utama.
Pada tanggal 24-26 desember 1935 BU an PBI menyelenggarakan kongres di Solo. Dalam organisasi tersebut berfusi dan lahir organisasi baru bernama Partai Indonesia Raya (Parindra).Sutomo yang terpilih sebagai ketua pengurus.







DAFTAR PUSTAKA
Poespoprodjo.1984. Jejak-Jejak Sejarah 1908-1926 Terbentuknya Suatu Pola. Bandung: Remadja Karya CV.
(http://www.scribd.com/doc/80525131/Budi-Utomo . diakses pada tanggal 28 januari 2014 pukul 11:40 wib)

            Poesponegoro,Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto.2008. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.
0 komentar